July 31, 2008

..seri dosa yang lain..

Gw punya best friend (temen SMP), cewek, namanya Dara. Si Dara ini sering berkeluh kesah di status YM soal LDR (Long Distance Relationship)-nya dia. Gw liat Dara khawatir gitu sama hubungan dia ama pacarnya, padahal si pangeran ganteng dan baik hati itu udah minta Dara untuk nunggu 3 tahun lagi aja, karena si cowok ini masih ada di New York sekarang.

Well, segala sesuatu emang nggak pasti sih, tapi bagi gw, status si Dara udah lebih dari cukup. Kategori AMAN-lah. Nggak kayak gw, udah jomblo, kronis pula. Harusnya gw yang kebat kebit. Hahaha.

Ngomongin soal kawin gini, semalem gw yang sedang homesick dan sensitip serta suka marah-marah ini, ngakak sejeder-jedernya, gara-gara disuruh kawin.

Jadi ada temen, namanya Ipung. Nah nggak ada angin nggak ada ujan, si Ipung tiba-tiba aja nyuruh gw kawin, dengan alasan: “umur lo udah uzur!”

Jah, gw dibilang uzur. (~..~)”

Gw sih nimpalin sambil ngegaring aja, sampe pada satu moment si Ipung bilang, “Cepetan nikah lah yum. Hm, kalo berkenan, gw mau kok. Untuk menghindari lumuran DOSA yang tidak diinginkan. Karena pada hakikatnya, semakin lo uzur, ntar dosanya nambah kalo nggak nikah-nikah”.

BAH!

Asli, bukan lamarannya yang penting, tapi kata DOSAnya yang lebih nemplok di muka gw. Berasa pendosa banget kalo seumuran gw belon kawin. (sigh).

Even though we are perfect, but really, no one or nobody around us is perfect. Tetap aja, kerasa claustrophobic, kalo semakin banyak orang-orang (bahkan yang lo nggak kenal sekalipun) nyuru-nyuru lo nikah.

Baik sih, niatnya ngingetin, tapi kalo akhirnya bergunjing, nah ini yang gw kaga demen. Gw sendiri yang jalanin aja, super santai trus kenapa orang-orang musti repot nana dan nini tentang ke-uzuran gw?

=======================================================================

Tapi ini bukan ngebahas gw dan segala keuzuran gw kok. Gw cuma pengen ngasih tau para cowok aja, besok-besok kalo ngelamar cewek, yang jujur, apa adanya, nggak usah pake alasan pengen ngehindarin dosa.

Kalo ceweknya normal, ya kaga papa. Masalahnya cewek sekarang pinter-pinter, jadi rayuan lo musti dibikin lebih sadis, apalagi kalo ceweknya rada sableng kaya si Kanya temen gw ini, beuh, ati-ati aja yak?

=======================================================================

"I can’t understand people who married for sex. Sex is not purpose but BONUS! Anything you shared with your beloved people is great, moreover, with S-E-X. Sex with unbeloved people can be FUN, but just.. NOT great"

Gw cuma mengangguk-angguk tanda mengerti. Gw ambil serauk kacang tanah gurih lagi asin favourit gw. Gw kupas dan kunyah-kunyah sambil terus konsentrasi mendengarkan ocehan si Kanya. Tanpa menyela.

"Gw jadi bisa ngerti, kenapa orang jaman sekarang jadi gampang banget memutuskan untuk cerai.." Kanya menghentikan kalimatnya, memberi kode dan mempersilahkan gw untuk menyanggah.

Gw cuma geleng-geleng kepala, menunjuk mulut gw yang penuh dengan kacang sambil naik-naikin alis yang secara implisit berarti meminta Kanya sendiri yang meneruskan kalimatnya.

"Kenapa coba? Kenapa orang cerai? KENAPA? That’s because they are not really fall in love at the beginning, Mereka pasti menikah karena sex, dan alasan paling KLISEnya: for AVOID sins. Gosh! It’s silly and stupid!"

Dan gw hampir keselek kacang bangkok (karena gendut banget kacangnya), saat Kanya memegang kedua pipi gw (setengah menampar kalo boleh curhat (T_T)v ) sambil bilang:

"So! My dearly friend, when a man comes to you and ask you for marriage and the reason is to AVOID sin, just leave him right away! Got it?!". Sekali lagi kedua telapak tangan Kanya, berbarengan, menepok pipi gw. Kanan dan kiri. “PLAK!!!”.

Semprul bin sontoloyo. Sakit juga. Tapi gw cuma bisa mengangguk pelan, sambil berusaha menelan pelan-pelan kacang yang hampir masuk ke rongga pernafasan.

Kalo gw nggak sigap, bisa mati keselek guah!

=======================================================================

Kalo jaman dulu, orang menikah memang hanya untuk menyalurkan hasrat yang satu itu (a.k.a = sex). Sex meant pleasure, which humans really crave. Tapi sekarang? Bicara diluar aspek religi, we can have this without marrying.

"Bullshit ngomongin soal menghindari dosa, kalo dibalik itu terselubung niat yang orientasinya cuma bodi, toket, dan seks juga!" Kanya menambahkan kalimat protesnya sambit mengikat rambut-nya yang sedari tadi tergerai lurus.

Sedangkan gw, masih mengupas dan mengunyah kacang-kacang malang itu.

=======================================================================

Menurut Kanya, perempuan mustinya tersinggung, kalo diajak menikah hanya karena akan dijadikan sebagai objek pengeliminasi dosa, iya = D-O-S-A, instead of as a life time partner, or a lover, or a beloved wife, ataupun sebentuk subjek lain (bukan objek) yang setidaknya punya kesempatan juga untuk jadi pemeran aktif dalam suatu kehidupan pernikahan.

Setelah gw pikir-pikir, ya ada benernya juga sih. Alasan menghindari dosa tadi sepertinya bener-bener kekanak-kanakan. Mending tu cowok bilang yang lain gitu, misalnya:

“ayuk nikah, sunnah rosul”
“ayuk nikah, biar kita bisa nyicil rumah bareng”
“ayuk nikah, aku cinta banget sama kamu”
“ayuk nikah, ibuku udah nanyain terus tuh”
“ayuk nikah, tapi di KUA aja ya, miskin nih”
“ayuk nikah, sebelum dilangkahin adek-ku”
“ayuk nikah, sebelum aku dilamar orang”
“ayuk nikah, biar bapakku bisa nimang cucu taun depan”
“ayuk nikah, tapi kamu sabar nungguin aku pulang ya”
(si Dara banget :p)

Gw rasa, akan terasa lebih jujur, lebih plong, lebih apa adanya. Ya nggak?

Versi gw pribadi sih, Pokoknya do NOT let marriage be your social alibi, do it because of love. Manis banget kan gw? Nggak pusing kaya si Kanya. (Hahaha. Digantung gw kalo dia baca tulisan ini).

Tapi tetep bagi gw, ke-uzuran gw akan bertambah parah aja nih. Karena gw percaya jika a person may love you, but avoid marrying you (or anybody else) if they somehow believe life with you will be difficult.

Dan gw merasa, semua cowok akan kesusahan kalo hidup sama gw. Sigh. Mengutip apa kata Caca temen gw, “Cuma begundal gila aja yang berani nikahin elu, com. Hahaha!! ”.

=======================================================================

Baru selese mikar-mikir, gw dapet e-mail dari temen gw:

Aku bingung sekaligus salut sama kamu rum, rupanya kamu masih hobby pegang bola panas yang bergulir kencang, Hahaha..

eh Rum, bertahun tahun, aku memiliki pertanyaan yang belum kudapat jawabannya, Pacar mu siapa sie, atau kamu ga punya pacar? hehehe.. salam deh buat lelaki misterius mu itu.

-Adi-

Sambil gigit-gigit apel fuji ditangan, gw nyengir. Ngikik sendiri, siapa lelaki misterius lagi begundal gila itu ya? Ck ck ck… []

=======================================================================

Buat Dara: Fear is always a constant, by accepting it, it makes you stronger.

                            

July 09, 2008

-live your life with fearlessness-

'S-e-v-v-a'. Berkali-kali kening gw berkerut sebelum akhirnya pintu lift terbuka.

"Ding!"

Gw melirik lelaki disebelah gw ini. Tingginya sekitar 182 cm. Bahunya lebar. Matanya besar. Rambutnya mirip Bi Rain (penyanyi ganteng asal Korea itu loh).

Dia yang gw lirik hanya balas melirik, mengernyitkan hidungnya dengan konyol, lalu merubah wajahnya yang (tadinya) serius menjadi sangat kacau, nggak karuan. Setengah terkejut, akhirnya gw nyengir maksa—sama kacaunya.

"Let me allow you…." Cowok ini membungkuk, bergaya bak tentara VOC jaman kolonial dulu.

"O Chris, phhhulease…" gw menggeleng-geleng, taking a long sigh, trus pasang tampang jijay. Melangkah lempeng dan nggak memperdulikan sang tentara kolonial. Sementara sang tentara hanya menggaruk-garuk kepalanya yang jelas nggak gatel itu.

"What did I do? I just want to be polite.." Teriaknya sambil menyusul langkah-langkah gw.

===================================================================================

Gw kenal Chris udah hampir 3 bulanan ini. Tapi karena kami banyak banget punya kesamaan sifat (sama-sama anak tunggal yang rada sableng adalah salah satunya), kami seperti orang yang sudah kenal bertaun-taun gitu. Ditambah, sebenernya, Mamaknya si Chris ini emang asli orang Indonesia. Hahaha. Produk Blasteran.

Princes Building, lantai 25. Hm, dari atas sini, gw bisa liat antena Wi-Fi yang dikerjain (atau lebih tepatnya ngerjain) Zikhry mati-matian (di Statue Square, taman persis disebelah gedung ini) secara jelas banget.

"Do you know that many of the stars that we romantically gaze at the night sky are already long gone? Actually we only enjoying its rays that expired a million years ago". Chris memandang langit gelap itu. Tanpa henti.

"I beg your pardon?", gw menatap Chris serius.

"Nope, nothing." Chris menjawab pasti.

Gw nggak lanjut bertanya. Gw berusaha mengerti kalau saat itu Chris nggak mau diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan simple yang diapun nggak tau bagaimana menjelaskannya.

===================================================================================

Sebenernya gw ngerti, Chris lagi berusaha ngehibur gw, karena beberapa hari yang lalu, gw cerita ke dia, kalo salah satu mantan gw, is getting married.

Dan gw sedih, sedih bukan karena ditinggal kawin, tapi sedih karena untuk beberapa saat kemaren, banyak banget hal di kehidupan gw yang berubah secara drastis. Dan sepertinya gw merasa kalo gw nggak siap untuk ngadepin semua perubahan itu. Gw ngerasa takut aja ama masa depan gw.

Dan dari situ Chris banyak cerita, ngasih pandangan ke gw. Dan gw ngerasa, dia tuh bener banget. Yeah, untuk usianya yang cuma terpaut satu tahun diatas gw, 'ni anak were totally.. wise.

===================================================================================

Human always afraid of the “unknown (sesuatu yang kita nggak tau pasti apa dan bagaimana itu). Dan secara nggak sadar, kita selalu terus mencari konfirmasi atas ketidaktahuan itu. Why? Ya untuk bersiap-siap atas kemungkinan terburuk lah. Karena kita sebagai manusia normal, selalu nggak mau kedapetan hal jelek, must been always delightful things, no room for sorrow!

Dari diskusi bersama Chris, gw mengetahui bahwa: fearlessness is generated when you can appreciate uncertainty. When you have faith in the impossibility of these interconnected components remaining static and permanent, you will find your self, in a very true sense, preparing for the worst while allowing for the best.

Maksutnya gini, lo nggak bakalan ngerasa takut akan apapun, jika lo mampu mengerti bahwa semua itu emang sudah diatur. How? Ya dengan memahami jika ada sesuatu yang telah nunggu lo dibalik "tikungan". Bahwa no matter what, mau kita hindari atau nggak, sesuatu itu akan tetap disana, dibalik tikungan itu.

Dengan menerima, TANPA memperhitungkan atau mencoba menerka bahwa sesuatu kejadian itu bakal terjadi atau nggak, itu akan membuat lo memiliki suatu pervasive awareness (gw artikan simple: perasaan nyantai coy), sehingga lo mampu merasa biasa aja terhadap apapun yang bakal terjadi dalam hidup lo, mao masalah nggak penting sampe masalah yang paling berat sekalipun. Why? Karena emang harus begitu kok. Bahasa Jermannya: Yo wis, nrimo ae. Jalanin aja, brur.

Gw inget-inget, bokap gw juga pernah ceramah tentang hal serupa. Bokap kalo nggak salah menyebutnya: perihal beriman kepada takdir.

"So, there’s no reason to have fear for the future, because you begin to know, the things are not entirely under your control and never will be, so there’s no expectation for things to go according to your hopes and fears." Chris menjelaskan sambil menunjuk muka gw setiap kali mengucap kata ‘you’.

Tuhan emang Maha Pemberi Rahmat dan Kebaikan tiada tara. Gila man! Gw dapet ilmu beginian bahkan bukan dari seorang kiayi, bukan ustad, bukan muslim pulak.

Yaa Allah, Tuhanku, you are so cool.

===================================================================================

Lalu apa kabar dengan “berusaha dan berikhtiar” dong?

In my sober mind (diartikan: waras—semoga juga bijak), ini semua berkorelasi kok. Gw bisa kasih contoh cerita dari Bokap tentang kisah si Mimin.

Sementara temen-temennya pada nyari gaji milyaran rupiah, Mimin begitu terhanyut dalam upayanya menghayati dan menjalani proses kerja sehari-hari dengan penuh nikmat dan rasa syukur, intinya Mimin percaya jika “sesuatu” telah menunggunya ditikungan situ. Perihal entah itu baik atau buruk, Mimin nggak perduli. Pokoknya Mimin pasrah aja, dijalaninya bait demi bait kehidupan dengan penuh rasa ikhlas sambil berserah diri serta menerima seburuk apapun takdir yang akan datang menyapanya.

Lalu ternyata, akibat kepasrahan dan kerja kerasnya, lama-lama, Mimin secara nggak sengaja punya gaji yang jauuuh diatas orang-orang kebanyakan. So? Mimin terpaksa kaya deh. Iya, T-E-R-P-A-K-S-A, karena niat awal Mimin sebenernya bukan untuk kaya.

Inilah wujud kerja keras yang dibumbui dengan keimanan dan kepasrahan.

Perlu ditekankan, kerja keras yang dilandasi dengan sikap PASRAH, lain dengan kerja keras karena ngangsa (cari di wikipedia, kalo kaga ngerti artinya. Soalnya, bahasa jawa kuno nih :p).

Kerja ngangsa dilandasi keinginan akan hasil besar secara kongkrit dibelakangan hari. Dengan kata lain, ada target. YANG kalau target tersebut tidak tercapai maka akan membuat kecewa.

NAH! Just capture its intencity, feel it. You feel it like I do, don’t u?

Yah, semoga, with fearlessness, you will find yourself then you become dignified and majestic. Coz, this qualities are the very secret ingredient to enhance your ability to do work, wage war, make peace, create a good family, and enjoy love and personal relationships. Ayo, Kawan! yang semangaaaat! []

===================================================================================

Some fall from grace because they are smoke but don’t inhale.

June 30, 2008

..rasa yang melemahkan..

Kalo lagi miskin, gw biasa main CS (counter strike) bersenjatakan AK 47 made in Rusia. Entahlah, begitu kangennya gw ama senjata bergagang coklat itu sekarang. Rasanya pengen gw kokang, gw isi full dan gw tumpahkan isinya tepat ke jidat seseorang.

Atau supaya lebih sadis, pake gaya Chaca, temen gw, yang suka belagu kalo maen CS (mentang-mentang jago), bunuh musuh nggak pake senjata api, tapi pake pisau

Rasanya lebih puas, lebih berdarah, lebih mak crot, lebih membunuh, dan kemenangannya lebih bereuforia dan menggema bak Jihad ala King Leonidas, yang diawali dalam kalimat: "..for tonight, we dine in hell..!!".

(Oo believe me, saat itu yang dibunuh pun jadi keki setengah mati. Makanya game CS ini nggak cocok buat adek-adek yang masih megang rapot, okeh?).

=============================================================================================

Gw adalah tipikal orang yang nggak bisa dikritik secara frontal. Kecuali, pertama, gw bener-bener salah, atau kedua, gw dikritik oleh orang-orang yang memang gw izinkan, gw bolehkan, serta gw anggap sah! dalam urusan mengomentari gw. Tapi kalo nama dia nggak ada didalam list, bah! Ni orang sedikitnya udah kena (invisible) marking dari gw. (Ya pastinya, marking ini juga bisa berubah sih sesuai situasi dan kondisi).

Marking disini bukan berarti gw mendendam, atau berhasrat (du'ilah: H-A-S-R-A-T) ingin membalas. (Sumpah! ini bukan defencing statement ataupun usaha gw untuk berapologi dan mbagus-mbagusi diri gw sendiri). Cuma nandain: CTA – Cukup Tau Aje…”

=============================================================================================

"Masya Alloh!". Kalimat itu doang dari tadi, yang menenangkan gw untuk nggak inget-inget AK47 ataupun hand grenade. Well, sebenere memang nggak hanya hari ini aja sih, gw mengalami tindakan diskriminatip (sengaja pake p), rasialis, dan (arrghh..) fitnahisasi dinegara tirai bambu coret ini. Tapi entahlah, mungkin kali ini rodo/agak lumayan menyayat hati. Terjadi di kantor pulak. Dimana bagi gw, kantor merupakan tempat teraman nomor tiga setelah Masjid dan kosan gw.

"Ah, mungkin kamu cuma lagi kangen rumah." Pasti pada bilang gitu. Whatever.

=============================================================================================

Jadi begini ceritanya lho: Gw baru aja bikin kesalahan, salah nulis IP address. Kesalahan itu sebenere cuma kesalahan redaksional dan nggak ngaruh ke network, apalagi sampe bikin outage (bukan mbelani, lho). Availability-nya masih mulus dan cantik: stabil diangka 100%. Ya, namun, bagimanapun sepelenya, ternyata kesalahan imut-imut itu lumayan bikin heboh orang sekampung sini.

NAH! parahnya, sang otak kejahatan bukan-lah gw, melainkan orang lain yang berlaku sangat MONYONG dan tidak gentlemen (Kata Bang Maurice, suruh pake rok ama lipstik, tambahan: lipstiknya yang murah aja!).

Sebut saja Suneo.

William, boss yang sangat wise dan berlaku adil itu, sebenernya belain gw (asik!) soalnya gw cuma ngerubah data sesuai order yang dikasih Suneo. Tapi masalahnya, setelah semua orang, dalam balutan aura dan background hitam, nunjuk ke gw as if: "Arum, you are so damn guilty!". Ctaar! petir-petir lalu memekik kejam.

Si Suneo, entah kenapa, jadi ikut-ikut berdiri bersama mereka, lalu ngipasi dan ngompori (sambil joget-joget dan tetabuhan): "Yes, she did it! She’s THE ONLY ONE who can do it! She got the access. YES!! She definitely did it!! It's impossible for somebody else doing it! Yeah! huhuy!".

(T____T) ... JAH! Makan Pare. Pait.

=============================================================================================

Sekarang lo semua paham kan, betapa gw pengen nyumpel granat di mulutnya Suneo??? (Tapi, tenang aja, William sang boss udah gw tunjukkin imel-imel by-pass-annya Suneo. Rasakan jurus "Kame kame ha" guah Suneooh!)

Yah, bagi guah, gw mengakui sih bahwa segala keributan dan kebobrokan tadi, memang salah gw juga.

=============================================================================================

Ah, gw jadi ingat sesuatu. (Dereng deng kwak kwaow, flashback). Kata pak kiayi di pengajian, jika ada orang, MALAS untuk mengenali dirinya sendiri, maka agak mustahil jika dia memiliki kemampuan untuk mendiagnosis apa penyakit yang sedang dideritanya.

NAH, kalau kita tidak punya diagnosis yang tepat terhadap apa yang kita derita, mustahil pula kita akan bisa menyembuhkan diri dari segala penyakit. Waduw!

Hm, salah satu penyakit gw sebenarnya adalah kurang tatag dan kurang sabar. Karena abis kejadian itu, bawaan gw jadi sedih, pengen pulang, lantas mellow.

Harusnya gw mampu untuk menghadapinya sendiri. Tanpa harus berembel-embel perasaan lemah dan manja kayak gini. Lha wong baru masalah sepele gini aja kok, tiba-tiba rasanya sepertinya meriang tujuh hari tujuh malam. Badan panas dingin, lalu malas ngapa-ngapain.   

Kayaknya, gw perlu mengantisipasi dan mendiagnosa lebih dalam tentang penyakit-penyakit gw ini. Mungkin, gw kemarin, masih (baru) terlalu sibuk meneliti, tanpa punya keinginan untuk mengilhami. (Ah, basi, kapan dewasanya dong?! - kapan-kapan lah).[]   

=============================================================================================

Izinkanku untuk mampu, wahai Tuhanku, Tuhan yang maha memuliakan..

June 17, 2008

..kebaikan yang tersembunyi..

"Tek.. Tek.. Tek.."

Tanpa suara, pria tuna netra itu terdiam dibawah derasnya hujan.

"Tek.. Tek.. Tek.."

Pria tuna netra yang sama masih tediam disamping lampu persimpangan jalan.

Sementara didepan pria itu, kendaraan besar dari pelabuhan tersibuk kota Kowloon, berlalu lalang dengan kejam. Menimbulkan sedikit getaran dan deburan angin bercampur air yang tanpa ampun melayang-layang kencang pada wajah pria itu.

Namun dia tetap tenang.

"treketrek-treketrek-treketrek-treketrek"

Bunyi bit ketukan yang berasal dari lampu persimpangan itu menjadi semakin cepat. Dan pria tuna netra itu (masih dibawah curahan hujan dan tentunya terpejam) melangkahkan kakinya kedepan, tak patah arang.

Sedang kendaraan besar yang sedari tadi dengan sombongnya berlalu lalang seolah tunduk pada pria itu dan membiarkannya lewat secara aman, sampai di ujung jalan.

=====================================================================

6:00 pm. After-work Hour.

"0" Gadis ini memencet tombol ditembok lift. Orang-orang yang tiba-tiba muncul lalu saling berdesakkan dan memasuki lift yang sama, gadis itu tanpa ekspresi menahan tombol "door open" hingga akhirnya semua orang lengkap memasuki lift yang irit dan sempit ini.

"12-11-10-9" Gadis itu memegangi tas coklatnya dengan erat. Kali ini dia tertunduk. Diusap-usap bahunya yang kecil, berharap segala lelah dan penatnya hari itu dapat hilang jika diusap-usap pelan seperti itu.

"4-3-2-1" Gadis yang sama mendongak, memperhatikan gerak lampu seven-segment yang terpanjang didalam lift.

"Ding". Ground Floor. Pintu Lift membuka. Kembali gadis itu menahan tombol "door open". Sama. Tanpa ekspresi. Lalu sekelebatan, melirik orang-orang berebut keluar dari lift.

Setelah dirasa kosong. Dilepaskan jarinya yang lentik dan mungil dari tombol "door open". Lalu dipijitnya angka terbesar pada deretan angka-angka penunjuk di dinding lift itu. "13". Lalu Gadis itu beranjak keluar.

Pintu lift menutup dan melaju ke lantai 13. 

=====================================================================

Wanita ini memakai blouse satin putih, dengan rok remple hitam berantai emas dipinggang. sungguh terlihat elegan. rambutnya panjang agak kelabu melewati bahu. Mata sipitnya samar terlihat karena dia membubuhkan eye-liner gelap.

Ditangannya teruntai gelang sewarna bumi yang sangat mencolok diatas kulitnya yang putih dan licin. Kukunya dihias sedemikian rupa. Sangat cantik. Jika dia melambaikan tangan sedikit saja, tak diragukan, setiap lelaki didepan situ, dijamin pingsan karena kecantikannya.

However, segala pandangan elegan, sophisticated, high-class, tak tersentuh, serta angkuh, seketika itu runtuh dipikiran gw. Dimana dengan tanpa merasa hina, melalui jemari ningratnya, wanita ini membantu mengangkat troli seorang tua yang sedang kesulitan menaiki tangga. Bahkan, troli itu kotor, besinya coklat dan berkarat lagi lembab. Ternganga, gw beku dan terpaku.

=====================================================================

Tiga kebaikan diatas, adalah kebaikan sederhana yang sangat samar (jarang diperdulikan) yang dilakukan oleh pelaku kehidupan yang juga samar (yang sama sekali tak perduli, apakah ada orang lain yang akan sadar atas kebaikan yang baru saja mereka perbuat).

Kebaikan pertama dilakukan oleh pemerintah juga komunitas sekitar yang perduli oleh para tuna netra (disini mereka bahkan bukan disebut sebagai “blind man” melainkan “person with visionary incapability”). Sehingga lampu merah dibuat mengeluarkan bunyi-bunyian, dimana bit pelan untuk menunggu, bit cepat untuk menyebrang. Fantastic.

Kebaikan kedua dilakukan oleh seorang gadis biasa. Tujuannya, mengembalikan lift ke lantai paling atas, supaya teman-temannya yang ingin juga segera pulang, tidak terlalu lama menunggu lift. Luar biasa.

Kebaikan ketiga dilakukan oleh sang wanita ningrat yang bisa gw bilang, nggak mungkin deh ada “wanita ningrat” di Jakarta yang mampu melakukan hal yang sama seperti itu. (Bahkan edannya lagi, si wanita ningrat ini sempet-sempetnya membungkuk-dalam kepada orang tua tadi ketika orang tua itu mengucapkan terima kasih). Amazing!

=====================================================================

Bokap gw pernah bilang, bahwa yang dimaksud dengan sholeh itu adalah segala kebaikan, kebenaran dan ibadah yang bisa diaplikasikan langsung ke publik sehingga manfaatnya dapat dirasakan untuk kebersamaan.

Jadi, jika kamu beribadah sendiri, itu baik. Tapi lebih baik lagi jika kamu mengamalkannya sehingga kamu dapat berguna untuk orang lain. Dan akan sangat baik sekali jika dilakukan tanpa disadari oleh orang lain. Kurang lebih begitu. (waow, sulit).

Nah, gw baru menyaksikan sebagian kecil “kesalehan” itu dengan mata kepala gw sendiri. Dan perasaan yang gw rasakan saat itu sebenarnya malah bukanlah sesuatu hal yang terasa bungah ataupun excited.

Kebalikannya, gw merasa kalo gw benar-benar sedih. Gw malu. Gw seolah terbantahkan. Gw bagai terlempar tak berguna ke sudut paling gelap dan sepi. Karena gw nggak merasa pernah melakukan kebaikan sederhana namun bermakna seperti itu.

=====================================================================

Gw terbiasa hidup dalam komunitas yang memerlukan kehinaan saudaranya sendiri untuk mendapatkan kejayaan. Yang juga membutuhkan kehancuran sesama manusia didalamnya untuk memperoleh sesuatu yang kami kira: kehormatan.

Sehingga apapun bentuk kebaikan yang terwujud adalah bukan merupakan suatu kebaikan murni tersembunyi yang terasa begitu indah dan menyejukkan seperti tadi.

Mengutip kata Cak Nun: di Indonesia, “kebaikan” sukar berdiri sendiri dan murni sebagai kebaikan itu sendiri. Kebaikan selalu “dalam rangka”, "dalam pamrih”, "dalam niat-niat” lain yang tersembunyi, yang belum tentu bersifat baik.

=====================================================================

(sigh…..) Sangat sedikit orang-orang di Indonesia yang mampu mengimplementasikan wujud keimanan dan kesalehan dalam kehidupan sehari-hari.

Kerongkoangan gw tercekat, semakin tercekat. Gw nggak perduli lagi gw ada dimana. Rasa malu ini sungguh menyesakkan dada. Memekakkan telinga. Melemaskan tenaga.

Hujan semakin deras dan keras. Segala istigfar dan airmata gw ikut terbawa bulir-bulir air yang entah datang darimana. Air itu mungkin kepanjangan tangan dari langit, well, bisa jadi milik malaikat yang mengasihani gw saat itu. Ah, maafkan, maafkan hamba yang khilaf dari segala kebesaran-Mu, Tuhan.[]

=====================================================================

Yes, saying it out loud doesn't always make it right.

June 15, 2008

..sebuah penerimaan..

Gw melirik ponsel kelabu yang telah setia bersama gw selama 2 tahun ini. Tertera disana: “Frederic Chopin prelude in E minor”. Alunan piano dari original sountrack film The Pianist ini kerasa pilu banget di dada. Bahkan angin sore yang silir semilir nggak mampu memalingkan gw dari derasnya rasa prihatin gw saat ini.

Temen kantor gw, Slinky Li, pernah bilang ke gw: “The only thing you can do to a dissaster is acceptance”. Menurut gw, filosofi hidup yang kayak gini nggak maen-maen. Ah, atau lebih tepatnya, gw aja yang terlalu oncom, mengada-ada untuk menggali lebih dalam tentang arti sebuah “acceptance”, acceptance terhadap kesalahan ataupun kebenaran yang berlalu lalang didepan mata kita.

Memang pada dasarnya, salah dan benar itu bukan milik kita. Kita hanya meminjam sebuah kebenaran dari Sang Pencipta. Dan saat kita melakukan kesalahan, itu hanya sekedar pertanda bahwa kita terlalu jauh dari-Nya.

==============================================================================

Adalah seorang gadis, let’s call her: Monica. Gw kenal Monica bahkan jauh sebelum kami mengerti arti cinta dan laki-laki. Mungkin 20 tahun lalu. Monica pernah mengalami moment yang luar biasa berat, karena satu-satunya lelaki yang selalu memenuhi seluruh ruang mimpi dan bilik kenyataan hidupnya, melangsungkan pernikahan dengan wanita lain.

Well, sepertinya bagi gw, ini hanya kisah cinta biasa yang bisa aja terjadi dalam kehidupan setiap orang. Bukan hanya Monica, bahkan gw pun pernah mengalami hal serupa. So there’s nothing special about it, right?.

Wrong…..!

==============================================================================

"Eh Ting (Monica selalu manggil gw: keriting), eh tau ga? Aku lagi di rooftop, kalo mao, aku bisa aja terjun bebas dari sini. You know, after all, pernikahan Baskoro, really a knife in my heart."

Monica menghisap rokoknya dalam-dalam.

"Tapi, itu sama aja aku memberi ruang kebenaran atas kesalahan yang dulu aku perbuat. Kamu tau, Ting? Ngga ada yang salah dalam kehidupan ini. Yang keliru adalah ketika kita menyikapi segala sesuatu dengan tidak memperhitungkan akibat dari pilihan sikap kita."

Monica menghela nafas.

"Waktu itu aku memilih untuk nggak memperjuangkan cintaku ke Baskoro. Karena, aku kira, dengan membiarkan semuanya mengalir, Sang waktu toh akan membuat Baskoro kembali ke aku. Ternyata, aku nggak nyangka, endingnya meleset sejauh ini."

Monica menutup perbincangan kami. Tanpa kata-kata pemanis, terasa dingin dan sadis.

==============================================================================

Monica yang secantik dan seanggun Dewi Jahnawi dari Jonggring Saloka, bisa saja menunjuk ataupun memilih secara acak a very high quality man dari segala penjuru jagad. Tapi entahlah, tampaknya memang harus ada orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kisah cinta yang complicated dan berujung tragis.

Monica selalu mencintai pria ini, seorang pria biasa, dengan kepintaran diatas rata-rata. Modal ketampanan pas-pasan dan postur yang slightly bersahaja. Ya, dia Baskoro. Waktu SMA adalah kali terakhir Monica bisa duduk berdua dengan Baskoro. Tertawa bahagia dibawah pohon akasia. Saat itu mereka tak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan cinta. Ya! hanya tertawa dan berbahagia dibawah pohon akasia. Bahkan mungkin, Monica terlalu sibuk menikmati setiap inci smiling curve dan mata bening Baskoro.

Bertahun-tahun selama gw mengenal Monica dan semua pacar-pacar perfecto-nya, tetaplah, selalu ada “Baskoro”. Kata emak gw, first love never die. Tapi, Monica selalu protes kalo gw bilang Baskoro itu first love dia.

Monica selalu bersikap tegar, dia tak ingin lagi menggali perasaan yang sudah begitu teguh untuk menjadikannya merapuh kembali. Tapi sering kali, gw menemukan Monica terpagut begitu lama, memandangi kerlip bintang.

Mungkin dia mencoba dengan sangat keras, untuk mengingat dan mencari smiling curve dan mata bening milik Baskoro disana, sambil sesekali berbisik lirih “I wanna kiss you underneath these stars..” Seolah Monica ingin malam menyampaikan lirih kerinduannya kepada Baskoro.

==============================================================================

Kadang kala, Monica pergi menemui Baskoro, frekuensinya pun nggak setahun sekali, tapi mereka bertemu. Dua jam, dalam hening, memandangi layar bioskop yang Monica nggak ngerti isi cerita film yang diputar, karena terlalu sibuk menggali perasaan yang mengalir hangat dalam nadinya. Sibuk menghirup lamat udara beku yang juga dihirup Baskoro. Sibuk menyimpan tiap detik berharga bersama Baskoro dalam setiap laci hatinya.

Setelah pertemuannya dengan Baskoro, anehnya, Monica malah selalu tampak lelah, pancaran sendu matanya seolah berkata, “Ah, hidup memang berat ataukah aku yang tak cukup kuat?”.

But I know, that's just a retarded question. Dalam hati, gw mengagumi Monica.

==============================================================================

Gw nggak nyangka ada makhluk macam Monica yang dapat menyelami arti mencintai lalu mampu memanggul beban cinta yang sebegitu beratnya dengan pasrah. Gw sendiri hingga saat ini, yakin, Monica nggak pernah menitikkan air mata barang setetespun atas pernikahan Baskoro. Walaupun pada kenyataannya, pernikahan Baskoro bagai racun mematikan yang meremas hatinya hingga luluh lantak. 

Kehidupan bagi Monica tak lain adalah sebuah pengabdian, pengabdian kepada janji, pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada kerabat, pengabdian kepada kebenaran yang dipegang, pengabdian kepada kehidupan, pengabdian kepada sang pencipta. Juga.. pengabdian kepada cinta.

Pengabdian cinta Monica kepada Baskoro.

==============================================================================

Monica paham, bahwa takdir Tuhan banyak diganjal oleh 'takdir kuasa manusia'. Tapi Monica memutuskan untuk menggantungkan diri pada Tuhan saja. Monica bersedia menanggung derita cintanya, asalkan dia rasakan itu memang kehendak Tuhan.

Walau dengan hati hancur, gw tau, Monica berhasil lulus dalam ujian kesabaran yang dihadiahkan Tuhan kepadanya. Monica berhasil lolos dalam ujian “acceptance” yang diberikan kepadanya. Gimanapun, kekayaan diri adalah bukan apa yang dapat kita miliki, tetapi adalah bagaimana kita dapat menjadi apa adanya sebaik-baik diri kita. Dan jangan pernah lupa satu hal, Gusti Allah mboten sare.

Plus, Tuhan itu maha adil.

==============================================================================

Ting!
Kapan pulang?
Kamu sehat disana?

kemarin aku main kerumahmu,
dan hebatnya, kamu nggak punya pohon mangga lagi tuh,
hahaha, pohon manggamu ditebang habis sama si Om.

Aku mau ngasih tau, aku mau nujuh bulanan minggu depan,
Si Woro udah nggak sabar pengen adiknya ini cepet brojol.
Cowok lho, Ting. Kamu pasti seneng banget.

Ting, aku mau menamainya Baskoro.

BR,
Monica

==============================================================================

Yups! Tuhan itu adil: only those who dare to fail greatly can ever achieve greatly. Monica telah menikah dengan seorang laki-laki, bukan Baskoro. Monica sangat mencintai laki-laki ini dan juga anak-anak mereka.

Tapi walaupun begitu, sepenggalan cintanya kepada Baskoro nggak pernah mati. Bak kisah cinta Bisma Dewabrata kepada Dewi Amba. Sepenggal cinta itulah yang disimpan Monica untuk Baskoro, mungkin Monica berharap, dikehidupan berikutnya, Baskoro adalah miliknya. Karena penerimaan itulah, Monica akhirnya melepaskan Baskoro.

Kisah hidup Monica juga ibarat video clip youtube kiriman Zuber, temen lama gw. Kalo nggak salah video clip itu milik Keroncong Chaos, judul lagunya: Kuburan Cinta. Model video clipnya, walaupun nggak secantik Monica, tetaplah spektakuler. Inti videonya ada seorang pemuda yang ditinggal kawin oleh model spekta tadi, lalu pemuda itu memutuskan mau mengakhiri hidupnya dengan cara nyebur sumur. Tapi nggak jadi, eh malah pemuda itu ambil wudhu. Video klip selesai.

==============================================================================

Gw jadi ingat seseorang. Seseorang yang selalu ada disetiap langkah perjalanan hidup gw. Namanya adalah satu-satunya nama laki-laki yang berani gw sebut dan gw ceritakan ke nyokap-bokap gw. For these whole years, nama yang sama, selalu nama yang sama. Tapi, gw cuman mingkem, manyun lantas masuk kamar kalo bokap gw nanya: ”Kapan dong dia diajak main ke rumah?”.

Karena gw selalu tau, laki-laki ini nggak pernah mencintai gw. Ironisnya, mungkin dia menikah tahun ini, dan bukan sama gw pastinya. Haha.

Gw tertawa! Ya, gw masih mampu tertawa! Gw harus mampu belajar menertawakan diri gw, karena kata pak ustad di pengajian: makin tinggi kemampuan seseorang dalam menertawakan dirinya sendiri, maka akan semakin meningkat pula kebesaran jiwa mereka. Semakin luas pengetahuan seseorang atas kedunguan-kedunguannya sendiri, semakin matang dan tegar kepribadiannya. Dan gw berharap, gw bisa begitu.

==============================================================================

Mirip Monica, pada malam yang legam, kelam, dan hanya ditemani sepenggalan sinar bulan, gw sempat juga terpagut lama memandangi kerlip gemintang.

Lalu mencoba juga dengan sangat keras, untuk mengingat dan mencari wajah lelaki itu disana.[]

==============================================================================

Him, the only man with his silly and rainy face.

May 21, 2008

..tentang kepasrahan..

"Ayrum, Om m mokay aa..?"

Gw tersentak kaget, “Oh, it’s okay now. No problemo” gw tersenyum, “I’ve finished it.” jawab gw santai. Well, seperti yang baru saja terjadi, rupanya gw sudah mulai menggila dan terbiasa melakukan bilingual language disini.

(Gw jadi inget, gw pernah punya mantan ekspatriat (heleh), dimana gw selalu ngomong pake bahasa indonesia ke dia, dan dia always jawab in english ke gw (dia paham bahasa Indonesia tapi logat bahasa indonesianya paraaaah!). Haha, pasti conversation kami terdengar aneh kalo ada orang yang berlalu-lalang disekitaran situ.)

Ehem, Back to the topic.

Disini, gw seringkali ngerjain hal-hal yang nggak biasa, yang kalo kata temen gw dari Malaysia: tak mencabar alias nggak mutu. Misalnya: bikin note sendirian di taman kota sambil ngikik nggak karu-karuan, Haha, mirip orang nggak waras (baru mirip lhooo).

Gw orangnya memang gampang excited sama apapun yang menurut gw baru dan asing, walaupun menurut Niken, adek kelas gw, gw lebih terlihat hyper-lebay dan norak bin kampungan dibanding keliatan “so much excited”.

Anyway, semakin gw ketemu hal baru, gw menjadi semakin pandai untuk mengerti dan memahami tentang hidup. Dengan kata lain, gw lebih bisa memaklumi perbedaan. Seperti ada seorang guru invisible yang mengajarkan nilai hidup yang sama sekali baru buat gw, yaitu menjadi MAMPU untuk tidak sepenuhnya menyetujui, tetapi bisa menerima. Mempertanyakan, tapi bisa mengerti.

Rasanya luar biasa unik untuk bisa mengenal lalu mempelajari tata cara yang datang dari sisi berbeda dengan asimilasi kultur yang begitu luar biasa berwarna warni, kadang jungkir balik, sering bikin deg-degan, banyak tikungan tak terduga—mirip roller coaster.

===============================================================================

Pengalaman paling seru gw, terjadi setiap kali gw mau sembahyang (sholat). Di agama gw, sebelum sembahyang, wajiblah kita berwudhu. Ada bagian-bagian tertentu dari tubuh yang harus dibasuh dengan air dan pastinya pake acara buka sepatu.

Nah! masalahnya, disini, yang namanya buka sepatu di ruang publik adalah perbuatan impolite, tercela, nista, dzolim! (meminjam bahasa si Isro dan Danan).

Gara-gara buka sepatu, mau wudhu, gw pernah dong, dimaki-maki pake bahasa Putung Hoa ama mbah-mbah cina di lavatory (lavatory itu sodaranya rest room/toilet). Untungnya, gw kagak ngarti. Gw sambutlah alunan alto (highest voice part) dari sang mbah-mbah cina itu pake tampang cengengesan gw yang asli dodol (baca: cantik) banget. :p

Belum lagi, gw pernah diusir, nggak boleh masuk Masjid gara-gara gw turis. Sakit rasanya membayangkan, tinggal sejengkal kita mau melakukan kebaikan, tapi kok dijegal. Rasanya sulit sekali untuk diterima.

===============================================================================

Awalnya gw merasa MARAH. Kok mau ibadah rasanya susah banget. Sambil muangkel, gw telpon bokap. Setelah cerita sampe muncrat-muncrat, bokap gw malah ketawa, “ndut, marah itu perlu, jika demi kebaikan.” Gw masih manyun. “Wani ngalah, luhur wekasane – yang berani ngalah, budinya lebih luhur bokap gw melanjutkan. "Ibadah itu pengabdian, salah satu bentuk pengabdian adalah mengutarakan rasa bersyukur, kepasrahan, dan penyerahan secara ikhlas". Gw masih aja merengut. "Kamu harus paham, bahwa kepasrahan dan penyerahan secara ikhlas adalah sesuatu yang sangat wajar dan normal. Bukan berarti kalah, bukan juga mengalah. Pasrah itu menerima, nanti makin tua, kamu akan makin paham, kok. Sudah, baik-baik ya disana?".

Mulanya gw nggak ngerti, bokap ngomong apa. Tapi seiring waktu, berasa ada sesuatu yang tumbuh dihati gw. Nggak disangka, bokap gw sangat mengerti cara membalut kemelut dengan begitu indah. Gamblang menjelaskan, tanpa membagi kecemasan. Gw pun dapat memahami walaupun dalam diam dan kesendirian.

===============================================================================

Sebenarnya sederhana: tulang itu keras, harus keras maka ia bernama tulang, dan kerasnya tulang tidak bisa diterjemahkan menjadi “tulang adalah pro kekerasan”.

Begitu juga dengan gw dan amarah gw. Gw yang mengeluh tentang begitu sulitnya melakukan ibadah di negara orang.

Saat itu, Yang gw pikir hanya kata: "Pokoknya". Pokoknya gw berprinsip, ibadah itu harus lengkap dan genap, sholat yang harus begini, dan wudhu yang telah ditetapkan begitu. Makanya gw marah saat segalanya gw rasa kurang: Wudhu yang nggak berbasah-basahan dari kepala sampai ujung kaki, atau sholat tanpa rukuk dan sujud.

Gw berusaha menarik benang merah, bahwa semua itu nggak akan sulit jika kita mau lebih berserah diri dan pasrah. Pasrah itu bukan mencari, tapi menerima. Pasrah itu bukan menentang, tapi berpegang. Pasrah itu bukan kehilangan, melainkan keikhlasan.

Dari situ gw mulai sedikit memahami dan mencoba meresapi bahwa sesungguhnya gw HARUS percaya bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Pengertian dan Maha Pengampun.

Dan gw sadar, kesempurnaan wudhu dan gerak sholat yang selama ini gw tetapkan, adalah pertanda kesombongan gw bahwa selama ini gw tidak percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengertian dan Maha Pengampun, bahwa selama ini gw tidak meyakini sedalam-dalamnya bahwa Tuhan memiliki kesempurnaan atas sifat Maha Pengertian dan Maha Pengampun.

Inilah rasanya menjalani ibadah tanpa memahami apa yang dijalani. Merasa menyembah, tanpa mengenal kemuliaan yang disembah. Sungguh membutakan.

===============================================================================

Langit malam masih merembang, biru menghitam dan bintang-bintang lugu, malu-malu, bermunculan dalam diam. Menghela nafas, gw menutup mata gw, berusaha menangkap angin yang terasa menusuk dan dingin.

Masih banyak ilmu tentang kehidupan yang gw nggak paham. Ah, betapa masih dangkalnya pemahaman ini.[]

===============================================================================

Only he who has the power to punish can pardon...

May 20, 2008

..my best..

Beberapa hari yang lalu, boss gw yang ganteng, Riki, datang berkunjung (kebetulan, kami nggak ngantor di lantai yang sama). Dan kunjungan itupun diakhiri dengan kalimat, “I’ve told you nearly one month ago to learn about TETRA!! why don’t you listen to me!!”.

Lantas William (boss gw juga) yang berdiri disitu memandang gw dengan iba, seolah berkata “Horotoyokono!!!” atau diartikan “Mampus lo!”.

Tapi entahlah, bagi gw, marahnya Riki kali ini adalah marah-marah yang begitu terdengar menggemaskan (menurut gw, itu namanya merajuk, bukan marah-marah. Barangkali dia kangen, kangen ama gw :p).

Exaggerated, gw majang tampang somay gw, sambil cengar-cengir,
“No, you didn’t told me so..”
“Yes I did!” Riki mengacungkan telunjuknya ke jidat gw.
“Nope, you did not!” gw cengengesan nggak mau kalah
“Yes Arum, I did!!” kali ini penuh penekanan, dia serius.
Jah, tetep aja gw senyam senyum badung,
“excuse moi, mister, you really.. did not..!!”
“Arrghh..” Riki menggeram, frustrated.

Gosh, he looks even more cute when frustrated (Risma & Lia dijamin ngiri).

========================================================================================

Nggak tau kenapa, gw suka banget ngeledekin boss gw yang galak sekaligus ganteng ini, sampe-sampe semua pacar-pacar gw (mantan lebih tepatnya) penasaran dan jealous setengah mati sama Riki. Padahal gw selama ini terlihat deket, tak lain dan tak bukan karena bisa jadi kita mengagumi karakter masing-masing.

Jujur aja, Riki cuma punya 3 kekurangan untuk membuatnya nyaris sempurna dimata gw: sudah menikah, suka babi, dan dia boss gw. Lain dari itu, nope, he’s totally above all range.

========================================================================================

Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Semua itu adalah fakta penciptaan yang tak terbantahkan. Makanya gw percaya ada hikmah kenapa gw harus ketemu sama Riki. Kami saling mengajarkan filosofi keilmuan how to respect and how to honour.

Kami punya trik yang sama untuk menghadapi kesulitan: “face it and get along with it. Let people think: why the hell he/she still can make it”. Kesamaan-kesamaan kecil itulah yang membuat kami saling berargumentasi, sering beradu pendapat, sering bertengkar kecil-kecilan, sering menuding: you are totally wrong. Tapi justru karena itulah kami memiliki semacam ikatan satu sama lain. Riki diam-diam sering melakukan sesuatu kebaikan demi gw, dan gw pun (kayaknya) sama.

Well, everything best only happen once in your lifetime. And I think, Riki is one of my best boss-friend.

It will be so damn hard, anyhow, if someday I have to give a resignation letter to him. But hey, life fakes time. We never know what really happen. God has a plan.

========================================================================================

Lagi asik bengong, one message received. Sebuah pesan sederhana masuk ke mailbox gw: “kapan kamu pulang?”

Pengirimnya seorang laki-laki Indonesia yang secara sadar gw cintai sedari dulu. Tapi ironisnya, gw selalu, dan akan selamanya murni dianggap sebagai seorang sahabat buat dia.

Well, everything best only happen once in your lifetime. And I hope, sang pria pengirim pesan sederhana tadi is my best, my only best.[]

May 03, 2008

..sebakul cinta dari mereka..

Cinta itu seperti pasir. Semakin digenggam erat, semakin dia akan pergi dari jari-jari kita. Kalau tidak dijaga, dia akan hilang terbawa angin. Dan ketika kita melepaskan genggaman pasir itu, selalu ada butir-butir yang tetap menempel di tangan.

Begitulah seduhan cinta yang gw rasakan setiap hari, memuncak disaat kepergian gw dalam rangka menjadi TKW di negeri antah berantah: setengah British setengah China yang jaraknya hanya sepenggalan galah.

Disaat yang benar-benar krusial dalam hidup ini, gw merasakan betapa sangat nyata pemberian cinta dari orang-orang sekitar gw yang sayang sama gw (well, tentunya yang gw sayangi balik juga).

Seperti contohnya, emak gw yang selalu men”semangat”i gw setelah beberapa kali gw ngeluh: “mak, ranselnya jadi berat daaah..”. Dan emak gw dengan santai bercanda, “biar kamu semangat, kamu sambil gendong, keberatan, bilang aja: makanan, makanan, makanan, makanan.. kalo demi makanan kan jadi nggak berat”. Sementara nyokap serius, gw ngakak nggak karu-karuan.

Trus bokap gw juga, bolak-balik pesen taksi, walaupun waktu itu masih seminggu sebelum hari-H. Plus, gw dibawain buanyak banged Incidal (obat alergi) karena bokap tau, gw gila banget ama seafood (FYI, disono: melimpah-ruah). Walaupun, in contrary, gw alergi minta ampyun sama makanan laut (kebayang nyiksanya kan?). Belum lagi masalah gw dibawain jahe segede gede jempol kaki, dengan pesan-pesan sponsor: “Ingat, jauhi Chivas dan Johnny Walker, wahai anakku..”

Dari temen kantor, Ideh, Sobat gw yang paling seksi, dia ngasih gw baju batik untuk menyadarkan gw tentang pentingnya rasa nasionalisme dan patriotisme walaupun gw menjadi TKW di negeri orang. Kalimat terakhirnya nggak kalah lucu: “Mbak yum, jangan diliat dari harganya ya….. Malu..”. hahaha M-A-L-U. Well, entahlah, kata terakhirnya bikin gw geli sekaligus terharu.

Ada lagi si Risma, Sobat di kantor, yang beliin gw sendok garpu yang lucu banget, dengan alasan “buat di HK, kalo disana ghak iso sumpitan”. Plus tambahan kalimat nyeleneh di kartunya, “sori ya, aku nggak iso berpuisi, sikilku wes kesel muter-muter”. Tanpa ekspresi. Gw ngikik sambil guling-guling.

Ada juga Reza, yang dihari terakhir gw ngantor, dengan baiknya, bersedia nemenin gw sampe didetik terakhir. Lambaian tangan dalam diam-nya seolah berarti: “Pal, you will get that dream like what we’ve dreamt of!”. Dalam hatipun gw mengamini, “We will, by god’s will, we will have that future, dude!”.

Dan ada juga beberapa yang lain:
1. Bu Dian NTS (5 taun lagi gw siap jadi ekspat, boss!)
2. Pak Andi SMART (semoga kelahiran Salma membawa cahaya)
3. Caca (gw masih bisa dateng ke kawinan lu kok, bro)
4. Joseph
(iya, gw jagaain Zikhry *bukannya kebalik?!*)
5. Team Terroris/CT d'Oncoms (McClane akan kembali!)
6. Lia n Baby Wilson will be (send me the picture!)
7. Iqbal (nang kunu ghak enek dolly, dul)
8. Mas Irwan (iya, I will take care of me)
9. Mas Bayu (sebentar? Nehi!)
10. Niken (miniatur Jackal nggak dijual bebas oy)
11. Mohawk (u will always be my ishtar summer)
12. Hendro (karena lo yakinin gw, gw bisa ndro)
13. Fajar n Kirun
(yang diem aja, no comment & nemenin ngupil)
14. Mas Indra TSEL
(semoga rencana marketingnya sukses)

Plus semua orang-orang dan sahabat gw yang diem-diem mendoakan gw dalam diam dan kesunyian.

At least untuk saat ini, I know, gw nggak bakalan mati merana sebagai orang yg bukan siapa-siapa. I have friends, good friends of mine. Also have a lovable parents.

Well, pada hakikatnya, setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita. Dan gw dan segala keterbatasan gw, akan berusaha meraih semua cita-cita itu, demi orang-orang yang gw sayang.

I Love You All, guys.[]

April 30, 2008

..That Letter..

~...~.~...~.~...~.~.~.~....~...~.~...~.~.~.~..~..~..~.~...~.~.~.~.~.~...~.~.~.~....~...~.~.~.~.~...~.~.~...~..~

Aku masih mencintaimu meski diatas kertas cinta itu terlarang. Kusadari bahwa aku telah mencintaimu semenjak dulu.

Semua foto dan surat telah terlanjur kubakar (setidaknya agar kita berdua menjadi tenang). Walaupun sesungguhnya hatiku hancur saat api menghanguskan hartaku yang paling berharga itu.

Tetapi gambar, suara, dan bayang jelas dirimu dihatiku.. mustahil bisa kusirnakan.

Pesan ini bukan simbol bahwa aku mengajakmu rujuk dan bisa menerimaku kembali. Aku hanya ingin menyampaikan berita tentang aku. Tentang aku yang lelah.. dan sangat lelah hidup tanpa dirimu.