August 06, 2008

..kenapa harus sama?..

Weekend minggu lalu, seperti biasa, gw menjelajahi kota saat pagi menjelang siang. Ini nggak sekali-dua kali gw mampir ke bioskop paling rame di Mongkok (bukan Mangkok lho ya?). Tapi ya, waduw, baru sekali ini gw kedapetan apes. Haha A-P-E-S.

Pas lagi antri masuk ke bioskop (disini beli tiket diluar, nanti baru masuk ke dalem untuk nyari studionya). Tiba tiba aja gituh, ada pria tua, mungkin umurnya sekitar 45-50 taun lah. Ngeliatin gw, sinis banged (pake ‘d’ biar mantebh), dari ujung jempol kaki sampe ujung jidat. Trus tiba-tiba aja, dia marah-marah.

Karena marah-marahnya pake bahasa alien, ya gw lempeng dot kom. Mana gw tau artinya apa. Rupanya, semakin gw lempeng, dia makin marah. Lama-lama do’i sadar, gw kagak ngaruh kalo dimarahin pake bahasa die, lah emang gw ngga ngerti siy. So, akhirnya, dia marah-marah pake bahasa Inggris.

"Look people, look at her (nunjuk ke gw), is she not feeling hot? This summer! What a moron!". MORON. Gw cuman diem bin mingkem. Ngeliat respon gw yang datar, dia makin heboh dong.

"Get cat over your tongue, kun yant? You are not supposed to scare people with your clothing style!". KUN YANT = PEMBOKAT. Gw baru sadar, dia nggak suka liat gw panas-panas gini (summer) pake jilbab. Gw mah tetep cuek.

Nah puncaknya pas mau masuk kedalem ruangan bioskop, dia (sengaja) nabrak pundak kanan gw dari belakang, kenceng banget sambil bilang: "Get move on!! You’re fvcking freak!!". FVCKING FREAK. Masya Alloh.

Gw menghentikan langkah gw. Entahlah, yang bisa gw lakukan cuma istighfar. Berasa pasrah aja.

Gw sempet nangis pas udah duduk di korsi bioskop. Well, belakangan ini beban dipundak gw lagi banyak emang sih. Temen-temen gw lagi pada menjauh, disini gw sendiri, dan nggak ada satu orangpun yang tanya kabar gw. Yah jadi tambah mellow gituh. Saat itu gw sempet mbatin: “Apa dosa gw ya Tuhan”.

Tapi trus gw berasa di TAMPAR lagi. Gw keingetan ama nasehat temen gw, Isro: “Kalau sedang diuji, janganlah menguji”. Gw ini lagi diuji, ngapain juga gw nantangin Tuhan balik: “Apa dosa gw ya, Tuhan”.

Lah, dosa gw kan emang udah banyak. Ngapain pake nanya? Sungguh Dodol. Makanya begitu inget lagi diuji, sedikit demi sedikit, gw mulai terhibur dan nggak nangis lagi.

(Iyyaka na'budu, wa iyyaka nasta'in - Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan).

============================================================================

Trus nggak lama, mungkin 1-2 hari setelah kejadian itu, gw dapet pesen dari teman, sebut aja Mas’ud. Mas’ud curhat: “Yum, gw baru dapet treatment gak enak dari temen seruangan, ini orang yg sama yang memperlakukan gw sebagai second grade creature, just because I am ugly

Hm..Terserah lo mau percaya apa nggak, tapi bagi gw, Mas’ud ini nggak jelek. He’s a very special and unique human being. So special that I always admire how he’s speaking, the way he’s thinking. Well, his ideas is always been amazed me!

============================================================================

Why most people that have a different way of style, have different way of how they see, listen and understand about something were always considered as a freak?. We are so running out the appreciation of others for being special.

Lo liat deh, liat semua orang. Semua orang sekarang berusaha keras untuk sama. Labeled by Kenzo, LV, Gucci, Armani.

Kalo tetangga punya sejumlah x benda, lo harus punya, al least, x+1 benda seperti mereka.

Kalo temen lu berkata A, at least lo harus punya tendensi 75% setuju akan A (or else lo akan di marginalisasi, dikacangin, dianggep aneh, nggak ditegor lagi, baik langsung ataupun lewat YM).

Kalo sekarang summer and semua orang pake baju kurang bahan, lo juga harus pake bikini. Atau? Lo akan dibilang Moron a.k.a Fvcking freak kaya gw.

Kalo lo nggak rapih, necis, bergaya borjuis kaya komunitas lo, lo bakal dibilang secondary creature, dibilang ugly. Kaya si Mas’ud.

============================================================================

Plis people, Lo melakukan sesuatu hal, bukan karena hal tersebut menyenangkan buat Lo, ataupun bukan karena secara politis memang lo harus gitu. Apa sih? Cuma demi sebait kata: S-A-M-A? Lalu lo nggak boleh being unique, dan lo nggak boleh look special.

WTF?

Ini semua simbol kesombongan. Dignity yang gw rasa nggak perlu ditonjolkan.

Kenapa sih orang nggak boleh berbeda? Kenapa kita harus meributkan perbedaan? Kenapa orang selalu gatel kalo ngeliat sesuatu yang beda? Kenapa orang jadi emosi kalo ada golongan yang lain yang nggak sama ama dia? Kenapa semua harus sama?

KENAPA?

Gw rasa bloody-crusade war which costing thousands of lives, juga terjadi karena adanya enforcing for the different visions of morality. Nah tetepkan? Gara-gara PERBEDAAN.

(sigh)

May God have mercy on us.

============================================================================

Gw pernah dengerin ceramah pendeta Buddha, pendeta itu punya cerita sederhana tentang teh. Katanya: Bagi kita, Tea is only leaves in a hot water. Tapi bagi pecinta teh yang betul-betul fanatik, ada teh yang dibuat dengan komposisi campuran khusus dan diolah dengan sangat special. Campuran special itu dikasih label: Iron Dragon. Trus dijual dengan harga menggila untuk sebungkus kecil saja. So, bagi para fanatik teh Iron Dragon, tea is not about a leaves in a hot water.

Kesimpulan: It is not the appearance that binds you, it’s the attachment to the appearance that binds you.

Jadi, janganlah menilai seseorang sebelah mata hanya karena dia berbeda. Pahamilah, mungkin dia punya alasan untuk berbeda. Bukan lantas kita menjadi apatis dengan nggak perduli atau lantas nggak protes akan perbedaan dia, bukan. Tapi justru karena kita menghargai perbedaan itu.

Pendeta itu juga bilang: When the self is full of pride, it manifests in countless ways: a narrow-mindedness, racism, fragility, fear of rejection, fear of getting hurt, insensitivity, etc. Semua keburukan itu bersumber dari ketidakpedulian.

Dan dengan diam dan berusaha mengerti, bukan berarti tak perduli. Karena ignorance is simply about not knowing the real facts, having the facts wrong or having incomplete knowledge.

Pendeta ini bijak banget. Gw ampe nggak perduli gw diliatin orang-orang karena gw satu-satunya muslim disitu.

============================================================================

Gw suka duduk aja sendirian di taman, memikirkan banyak hal. Ada kalanya gw berpikir, secara fundamental, people really like to have freedom only for theirselves but not for others. Padahal teorinya, as we liberate from our own fear, our presence will automatically liberate others. Yah namun, bagaimanapun, halah, namanya juga manusia.

Sebagai contoh, kita bisa aja marah, sangat marah, hanya karena: kita marah sedangkan orang lain nggak. Dan lo berpikir, orang lain itu harusnya marah juga.

Atau contoh lain, ada yang berpikir: “Arum tuh susah banget sih dibilangin, dasar kepala batu!”. Sementara disisi lain, sebenernya gw bukan susah dibilangin, tapi gw lagi benar-benar berpikir, apakah dengan mengikuti pendapat lo, gw akan menyenangkan hati lo, padahal gw sendiri berbohong tentang apa yang sebenernya gw rasain.

Gw nggak mau lah jadi pembohong hanya demi kata: SAMA, Se-ide, nurut, dll. Called me: EXTREMELY impatient, selfish, short fuse, egotistical or whatever! (kata ramalan zodiak sih, gw gituh :p)

See? Orang lebih mau nerima kebohongan (atau hal yang SAMA ama pikiran dia) dibanding menerima kenyataan yang sebenarnya.

I am laughing so hard. Bukan menertawakan orang lain itu. Tapi I found that it’s really true, that emotions sometimes can be very childish. (I give another example: you might be upset one day because your partner is too possesive and the next day because he’s not possesive enough. See? It just damn confusing, right?)

============================================================================

Gw berusaha keras menemukan integritas pribadi gw, karena melalui penelusuran karakter asli kita (lets called it integritas pribadi), kita bakal mampu untuk hidup sesuai dengan apa yang kita ketahui, apa yang kita nyatakan, dan apa yang kita lakukan.

Berkata benar, menepati janji, memberi teladan tentang apa yang kita yakini, dan memperlakukan orang lain dengan adil dan murah hati adalah beberapa langkah kongkritnya. Mungkin gw belum bisa sesempurna itu, setidaknya gw berusaha (sedang berusaha).

Mengambil kutipan Jack Welch: ”Rasa percaya diri, berterus terang, dan kemauan sungguh-sungguh untuk menghadapi kenyataan, meskipun hal tersebut sangat menyakitkan adalah inti dari hidup dengan sadar.[]

============================================================================

Iyyaka na'budu, wa iyyaka nasta'in - Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

                            

June 07, 2008

.Mbalela: ini bukan debat agama.

FS Shout out gw:
“Saya memang Islam, tapi saya tidak berkewajiban untuk menuruti budaya Arab..”

=======================================================================================

Comment 1 (From Mas Klenth):
Betul Yum, Islam itu bukan Arab, Arab belum tentu Islam. Sudah saatnya Islam yang baik dan moderat berteriak dan bersuara lantang sebelum nama Islam dibajak orang-orang yg tidak bertanggung jawab dan sama sekali tidak mencerminkan kedamaian dan kesejukan, tidak mencerminkan Rahmatan Lil Alamin.

Ini mungkin kesempatan emas Indonesia dgn Islam kulturalnya justru utk tampil sebagai alternatif pemahaman Islam di dunia. Jadi dunia tau Islam itu bukan cuma Arab yg menindas wanita atau seperti yg di videonya Wilder, tapi tengoklah Islam kultural di Indonesia, dimana hak asasi manusia dihargai, kemajemukan dihormati, damai dan sejuk. 

Gw reply back:
Mas, kebenaran tak pernah akan lahir dari tindakan emosional. Kebenaran akan selalu datang dari kearifan. Seperti katamu: "keimanan yang nyata akan membawa kita kepada sebuah perenungan yang dalam, bukan kepada kepastian yang gampang".

Lagian gw nggak pusing kok, gimanapun, tindakan keagamaan itu HARUS identik dengan SELURUH kehidupan, dan tekanannya LEBIH kepada iman & kualitas bathin. Bukan terletak pada tindakan lahiriah yang 'tampak' religius (baca: Arab).

Akibatnya agama lebih berkutat pada FORMALITAS. Agama tak lagi menjadi jalan hidup manusia untuk menyempurnakan kemanusiaannya.

Banyak sekarang, orang mengaku bahwa ia mengenal Tuhan, tetapi budi pekertinya tidak patut! Pengendalian nafsu tak dipenuhi! Mengesampingkan kesalehan. Syariat yang tanpa MAKNA.

Seharusnya, semakin tinggi tingkat kerohanian seseorang, maka semakin rendahlah emosinya, ekstrimnya hingga dititik nol.

Well, (untuk kesekian kalinya gw nggak lupa bilang) sempurnanya tubuh memang tak akan pernah menjadi jaminan atas sempurnanya jiwa, mas!

=======================================================================================

Comment 2 (From mazbayu_1982 via YM):

mazbayu_1982: jayalah FPI
gw: karena kamu sudah memilih jayalah FPI, aku milih NU berarti hehe..
mazbayu_1982: NU cm berani ngomong aja, gak ada tindakannya

gw: FPI cm berani ngerusak aja, gak ada nuraninya
mazbayu_1982: kan harus tegas
gw: kan harus mikir
mazbayu_1982: NU?chicken

gw: FPI?barbar []

=======================================================================================

Saya ingin kamu mendengar, tidak untuk disetujui, tidak untuk dimengerti. Saya cuma ingin menyatakan..

March 18, 2008

..a noble traits of character..

Senja meredup manja. Semburat biru mulai mendominasi kanvas merah di sore berbau laut itu. Leichhardt, with a beautiful water view, is my favourite place. Berjalan bertelanjang kaki, sepanjang the water's edge then follow the harbour foreshore for very long way has been put some undescribe-and-happy feeling for me.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Namun, kali ini gw hanya ingin merasakan kedamaiannya aja. No camera shutter, no cell phone, nobody, nothing. Hanya ada gw, biru laut, langit sore dan (tentunya) Tuhan.

"Mak!!"

Suara ini demikian familiar di gw. Dennis'.

"Weh, ngapain mak....?!"

Gw berkedip-kedip. Suasananya tiba-tiba berubah. Gw baru sadar, kayaknya gw barusan nggak sengaja ketiduran di meja kantor gw. (Dennis asem....).

===============================================================

Banyak ’pengunjung’ tetap cubical gw. Well, nggak sombong, tempat gw emang punya view paling bagus. Segala beban, kata temen-temen gw, kerasa plong kalo udah numpang duduk sebentar deket sini. (Bilang aja mau deket-deket gw hehe).

Salah satunya, Dennis. Dennis ini salah satu sahabat favorite gw dikantor. Dia typical cowok yang betul-betul bisa dibilang cowok banget. Lembut, manis, tata kramanya bagus, dan lucu.

Dia juga sangat bertanggung jawab, ya sama kerjaan, ya sama keluarganya (dia jadi kepala keluarga setelah papanya meninggal). Anaknya nggak gampang ngeluh, selalu bersyukur dan nerima apapun kondisi dia sekarang. Gw rasa dia bakal sukses dengan attitude dia yang pantang nyerah but so sweet dan nice itu.

Sebelum resign, Dennis sempat mengungkapkan, betapa bahagianya dia bisa ketemu lalu kerja bareng sama gw dan juga temen-temen yang lain.

===============================================================

Gw jadi inget, dulu gw punya temen kantor (sebut saja Sheila), anaknya bawel dan apatis banget. Seinget gw, udah banyak kata-kata nggak bersyukur keluar dari mulut dia. Padahal saat itu, kondisi Sheila (jauuuuuh banget) 89 kali lebih baik daripada Dennis.

Mending kalo cuma ngeluh (karena ngeluh itu manusiawi). Tapi ini mah: su’udzon ama orang, nyelain/nyacat orang, sama sekali nggak berterimakasih atas hidup, nggrundel (aduh, nggak ada terjemahan bahasa Indonesianya ”nggrundel”, maaf ya?). Well, kalo kata pak ustad gw di pengajian: ”Hatinya penuh kerewelan yang mubazir. Hatinya tak kunjung selesai.”

Kayaknya, energi, pikiran dan hatinya dikuras BUKAN untuk napak kedepan. Saat itu, dia lebih asyik mikirin gimana nyari kemungkinan pekerjaan lain yang menurutnya lebih berGENGSI dan berpendapatan lebih tinggi, dibanding asyik melatih ketrampilan baru atau rajin mencari peluang-peluang yang bisa mengembangkan hidupnya (hidup yang bukan sebatas pekerjaan aja).

Tapi sekalinya dibahas, malah kata-kata apatisnya Sheila yang keluar: "Seinget gw, setiap ada yang resign, lo selalu bersikap gitu tuh, ngejutekin orang pindah, kalo lo ga pindah kan, bukan berarti semua orang harus ga pindah"

Itu kalimat terakhir dari Sheila yang sangat-sangat mengecewakan gw. Rasa sayang gw kedia saat itu bener-bener terdiscount hampir 70%-nya. Emang sih, Sheila nggak satu-dua kali kayak gini sama gw, bahkan bisa dibilang Sheila mampu melampaui record cowok-cowok keparat dalam hidup gw dalam hal bikin gw nangis.

Gw sih mau aja jawab: ”you crazyface damn ass!” (dibahasakan: "Raimu, cuk!"). Tapi gw nggak tega, Sheila terlalu manis (diwajah) untuk disakiti. However, dia juga pernah bikin gw ketawa dan bikin gw seneng juga.

Well, namanya juga manusia, selalu rakus akan tuntutan, haus akan ketidakrelaan. Hatinya Sakaw: menagih, menagih, dan menagih.

Bisa jadi karena dia adalah produk dari suatu masyarakat feodal yang hobi memelihara kebodohan. Dia adalah anak dari jaman dungu yang tidak pernah menggali akal dan rasionalitas, sehingga tidak pernah mengerti bahwa menempuh hidup yang mulia adalah dengan menjalani hidup yang benar dan baik, tanpa menyakiti orang lain.

Sebenarnya persoalan ini, intinya bukan membahas tentang gw dan masalah gw sama Sheila. Gw cuma mau memberitakan, bahwa sebaiknya kita jangan gemampang, jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh apalagi menyakiti orang.

Jangan dipikir gula pasti manis atau pare pasti pait. Gula nggak mesti manis. Intelektual nggak mesti mampu berpikir. Dan sarjanapun nggak pasti pinter. Sama aja dengan 'kata-kata': mungkin lo gampang banget ngeluarinnya, tapi lo nggak akan tau gimana sulitnya kata-kata itu diterima oleh orang lain.

Kalo kata manager finance gw, Lia dan alkitabnya, "yang masuk kedalam mulut lo, apapun itu, keluarnya tetep sama. Jadi nggak masalah. Tapi, apa yang keluar dari mulut lo, itu yang harus lo pikirkan, karena lo nggak akan tau, gimana efeknya ke orang lain."

Lalu, Bokap gw juga menjabarkan hal yang sama lewat bahasa yang lebih simple: "Aji ning diri, soko lathi" - bagaimana kamu, adalah bagaimana lidahmu berujar.

===============================================================

Jadi, beranikah lo berperang melawan diri lo sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah? Sanggupkah lo mengalahkan obsesi kehidupan lo sendiri untuk merintis peperangan-peperangan yang at least lebih punya harga diri?

Segala makhluk adalah hamba Tuhan, dan segala hamba yang dicintai-Nya adalah yang sebanyak-banyak memberikan manfaat kepada makhluk-Nya. So, berhentilah untuk saling menyakiti.

Mulailah untuk membangun suatu noble traits of character (makarim al akhlak) dalam diri masing-masing. Mulailah meruntuhkan tembok-tembok kebanggaan terhadap sifat apatis yang lo miliki. Mulailah belajar mengeluarkan kata-kata yang lebih bijak.[]

===============================================================

This is dedicated to everybody who’s very proud to be an apathetic.

January 06, 2008

.devil vs evil.

Venue: Kereta AC Ekonomi Ciujung
Time: hari terakhir menjelang wiken

==================================================================================

Sang Bapak: “Mas tolong kasih tempat duduknya buat si mbak ini” *Nunjuk ibu-ibu hamil*

Moron: “Enak aja, saya juga pegel nih pulang kerja”

Sang Bapak: “Mas, tapi mbaknya ini lagi hamil, tolong pengertiannya”

Moron: “Cari ditempat lain aja” *mengibaskan tangan*

Gw: *nggulung koran kereta gratis, sambil setengah kesetanan* “Heh stupid asshole! Dia ini hamil dan butuh duduk!! Lo kira perut buncit iney *nunjuk perut mbaknya pake koran* gara-gara busung lapar?! Lo punya otak kagak?! Pake dong otaknya!? Oncom!! B’diri kagak lo?! Diri!!”

Moron: “Siapa lo?! Ngomong merintah-merintah, teriak-teriak udah kayak orang nggak berpendidikan!”

Gw: “Heh, goblok!! Asal lo tau yeh!! Anjing gw kagak sekolah, Tapi dia ngerti gimana memperlakukan ibu-ibu hamil!!! Bikin malu negara aja lo!! Buruan!! B’diri!!!”

==================================================================================

Bahasa Indonesia ada tiga macam: bahasa Indonesia yang baik, yang benar dan yang enak. Mungkin kali ini, untuk memberikan pengajaran, gw harus nggak pake ketiganya.

Thus, abis ini gw musti Ngaras (nyembah) lebih lama dipun gusti Allah kang murbeng dumadi (nyuwun ampunan, ya Gusti). Karena hari itu gw udah bener-bener lelah dan khilaf liat manusia Indonesia yang benar-benar terkutuk (audzubillahimindzalik). Untung banget, saat itu gw kagak bawa FN atau granat. Bisa mati se-kereta ntar..

==================================================================================

Sigh. Kalau dirasa mampu, apa sih susahnya berkorban sedikit demi orang lain. Tampaknya sulit sekali berkorban (atau lebih tepatnya: berbagi) sedikit “pengertian”. Toh “pengertiannggak akan ngabisin duit tabungan loe kan?

==================================================================================

Katanya, dalam suluk dalang dalam wayang, Indonesia adalah surga yang turun ke dunia, negeri gemah-ripah, loh jinawi, tata tentrem, kerta rahardja. Orang Belanda menyebutnya, het zachtste volk der aarde (bangsa terlembut di dunia). Tapi apa yang terjadi sekarang? Kemana perikemanusiaan yang adil dan beradab?

Kemana?

Gw sangat paham, jika gw sedang hidup dalam masyarakat yang dibangun atas dasar kedzaliman dan penindasan, kebodohan dan apatisme. Tapi itu semua bukan berarti gw juga harus diam dan being part of them.

Gw jijay ngeliat orang yang memandang dirinya sebagai bagian dari kaum intelektual, namun nggak sama sekali berpartisipasi menghadapi dekadensi. Malahan terkungkung oleh kebingungan, lalu menahan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya baik karena takut mengalami penindasan. Yang kata bokap guah: Mbejujak! Dzolim! Tercela! Yang (juga) kata Pram: Perikemanusiaan limited.

Please people, janganlah hanya berusaha diam (alih-alih sabar) dan tahan memelihara kebodohan semacam itu. Gw jamin kita akan terus-menerus sengsara dan nggak akan pernah memperoleh solusi apapun atas segala masalah.

Tapi, selamat lah Bung! Karena Anda memang hidup di tengah manusia modern yang merasa dirinya pahlawan-pahlawan rakyat namun otentik dan kongkret dalam khianat, sinisme, kecurigaan buruk yang berpotensialitas setan. Sehingga menurut gw, nggak dosa kalo kala-kala, setan dilawan dengan setan.[]

==================================================================================
to mbak-mbak hamil: banyakin ketok ketok meja dah!