..sebakul cinta dari mereka..
Cinta itu seperti pasir. Semakin digenggam erat, semakin dia akan pergi dari jari-jari kita. Kalau tidak dijaga, dia akan hilang terbawa angin. Dan ketika kita melepaskan genggaman pasir itu, selalu ada butir-butir yang tetap menempel di tangan.
Begitulah seduhan cinta yang gw rasakan setiap hari, memuncak disaat kepergian gw dalam rangka menjadi TKW di negeri antah berantah: setengah British setengah China yang jaraknya hanya sepenggalan galah.
Disaat yang benar-benar krusial dalam hidup ini, gw merasakan betapa sangat nyata pemberian cinta dari orang-orang sekitar gw yang sayang sama gw (well, tentunya yang gw sayangi balik juga).
Seperti contohnya, emak gw yang selalu men”semangat”i gw setelah beberapa kali gw ngeluh: “mak, ranselnya jadi berat daaah..”. Dan emak gw dengan santai bercanda, “biar kamu semangat, kamu sambil gendong, keberatan, bilang aja: makanan, makanan, makanan, makanan.. kalo demi makanan kan jadi nggak berat”. Sementara nyokap serius, gw ngakak nggak karu-karuan.
Trus bokap gw juga, bolak-balik pesen taksi, walaupun waktu itu masih seminggu sebelum hari-H. Plus, gw dibawain buanyak banged Incidal (obat alergi) karena bokap tau, gw gila banget ama seafood (FYI, disono: melimpah-ruah). Walaupun, in contrary, gw alergi minta ampyun sama makanan laut (kebayang nyiksanya kan?). Belum lagi masalah gw dibawain jahe segede gede jempol kaki, dengan pesan-pesan sponsor: “Ingat, jauhi Chivas dan Johnny Walker, wahai anakku..”
Dari temen kantor, Ideh, Sobat gw yang paling seksi, dia ngasih gw baju batik untuk menyadarkan gw tentang pentingnya rasa nasionalisme dan patriotisme walaupun gw menjadi TKW di negeri orang. Kalimat terakhirnya nggak kalah lucu: “Mbak yum, jangan diliat dari harganya ya….. Malu..”. hahaha M-A-L-U. Well, entahlah, kata terakhirnya bikin gw geli sekaligus terharu.
Ada lagi si Risma, Sobat di kantor, yang beliin gw sendok garpu yang lucu banget, dengan alasan “buat di HK, kalo disana ghak iso sumpitan”. Plus tambahan kalimat nyeleneh di kartunya, “sori ya, aku nggak iso berpuisi, sikilku wes kesel muter-muter”. Tanpa ekspresi. Gw ngikik sambil guling-guling.
Ada juga Reza, yang dihari terakhir gw ngantor, dengan baiknya, bersedia nemenin gw sampe didetik terakhir. Lambaian tangan dalam diam-nya seolah berarti: “Pal, you will get that dream like what we’ve dreamt of!”. Dalam hatipun gw mengamini, “We will, by god’s will, we will have that future, dude!”.
Dan ada juga beberapa yang lain:
1. Bu Dian NTS (5 taun lagi gw siap jadi ekspat, boss!)
2. Pak Andi SMART (semoga kelahiran Salma membawa cahaya)
3. Caca (gw masih bisa dateng ke kawinan lu kok, bro)
4. Joseph (iya, gw jagaain Zikhry *bukannya kebalik?!*)
5. Team Terroris/CT d'Oncoms (McClane akan kembali!)
6. Lia n Baby Wilson will be (send me the picture!)
7. Iqbal (nang kunu ghak enek dolly, dul)
8. Mas Irwan (iya, I will take care of me)
9. Mas Bayu (sebentar? Nehi!)
10. Niken (miniatur Jackal nggak dijual bebas oy)
11. Mohawk (u will always be my ishtar summer)
12. Hendro (karena lo yakinin gw, gw bisa ndro)
13. Fajar n Kirun (yang diem aja, no comment & nemenin ngupil)
14. Mas Indra TSEL (semoga rencana marketingnya sukses)
Plus semua orang-orang dan sahabat gw yang diem-diem mendoakan gw dalam diam dan kesunyian.
At least untuk saat ini, I know, gw nggak bakalan mati merana sebagai orang yg bukan siapa-siapa. I have friends, good friends of mine. Also have a lovable parents.
Well, pada hakikatnya, setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita. Dan gw dan segala keterbatasan gw, akan berusaha meraih semua cita-cita itu, demi orang-orang yang gw sayang.
I Love You All, guys.[]

Comments