« April 2008 | Main | June 2008 »

May 21, 2008

..tentang kepasrahan..

"Ayrum, Om m mokay aa..?"

Gw tersentak kaget, “Oh, it’s okay now. No problemo” gw tersenyum, “I’ve finished it.” jawab gw santai. Well, seperti yang baru saja terjadi, rupanya gw sudah mulai menggila dan terbiasa melakukan bilingual language disini.

(Gw jadi inget, gw pernah punya mantan ekspatriat (heleh), dimana gw selalu ngomong pake bahasa indonesia ke dia, dan dia always jawab in english ke gw (dia paham bahasa Indonesia tapi logat bahasa indonesianya paraaaah!). Haha, pasti conversation kami terdengar aneh kalo ada orang yang berlalu-lalang disekitaran situ.)

Ehem, Back to the topic.

Disini, gw seringkali ngerjain hal-hal yang nggak biasa, yang kalo kata temen gw dari Malaysia: tak mencabar alias nggak mutu. Misalnya: bikin note sendirian di taman kota sambil ngikik nggak karu-karuan, Haha, mirip orang nggak waras (baru mirip lhooo).

Gw orangnya memang gampang excited sama apapun yang menurut gw baru dan asing, walaupun menurut Niken, adek kelas gw, gw lebih terlihat hyper-lebay dan norak bin kampungan dibanding keliatan “so much excited”.

Anyway, semakin gw ketemu hal baru, gw menjadi semakin pandai untuk mengerti dan memahami tentang hidup. Dengan kata lain, gw lebih bisa memaklumi perbedaan. Seperti ada seorang guru invisible yang mengajarkan nilai hidup yang sama sekali baru buat gw, yaitu menjadi MAMPU untuk tidak sepenuhnya menyetujui, tetapi bisa menerima. Mempertanyakan, tapi bisa mengerti.

Rasanya luar biasa unik untuk bisa mengenal lalu mempelajari tata cara yang datang dari sisi berbeda dengan asimilasi kultur yang begitu luar biasa berwarna warni, kadang jungkir balik, sering bikin deg-degan, banyak tikungan tak terduga—mirip roller coaster.

===============================================================================

Pengalaman paling seru gw, terjadi setiap kali gw mau sembahyang (sholat). Di agama gw, sebelum sembahyang, wajiblah kita berwudhu. Ada bagian-bagian tertentu dari tubuh yang harus dibasuh dengan air dan pastinya pake acara buka sepatu.

Nah! masalahnya, disini, yang namanya buka sepatu di ruang publik adalah perbuatan impolite, tercela, nista, dzolim! (meminjam bahasa si Isro dan Danan).

Gara-gara buka sepatu, mau wudhu, gw pernah dong, dimaki-maki pake bahasa Putung Hoa ama mbah-mbah cina di lavatory (lavatory itu sodaranya rest room/toilet). Untungnya, gw kagak ngarti. Gw sambutlah alunan alto (highest voice part) dari sang mbah-mbah cina itu pake tampang cengengesan gw yang asli dodol (baca: cantik) banget. :p

Belum lagi, gw pernah diusir, nggak boleh masuk Masjid gara-gara gw turis. Sakit rasanya membayangkan, tinggal sejengkal kita mau melakukan kebaikan, tapi kok dijegal. Rasanya sulit sekali untuk diterima.

===============================================================================

Awalnya gw merasa MARAH. Kok mau ibadah rasanya susah banget. Sambil muangkel, gw telpon bokap. Setelah cerita sampe muncrat-muncrat, bokap gw malah ketawa, “ndut, marah itu perlu, jika demi kebaikan.” Gw masih manyun. “Wani ngalah, luhur wekasane – yang berani ngalah, budinya lebih luhur bokap gw melanjutkan. "Ibadah itu pengabdian, salah satu bentuk pengabdian adalah mengutarakan rasa bersyukur, kepasrahan, dan penyerahan secara ikhlas". Gw masih aja merengut. "Kamu harus paham, bahwa kepasrahan dan penyerahan secara ikhlas adalah sesuatu yang sangat wajar dan normal. Bukan berarti kalah, bukan juga mengalah. Pasrah itu menerima, nanti makin tua, kamu akan makin paham, kok. Sudah, baik-baik ya disana?".

Mulanya gw nggak ngerti, bokap ngomong apa. Tapi seiring waktu, berasa ada sesuatu yang tumbuh dihati gw. Nggak disangka, bokap gw sangat mengerti cara membalut kemelut dengan begitu indah. Gamblang menjelaskan, tanpa membagi kecemasan. Gw pun dapat memahami walaupun dalam diam dan kesendirian.

===============================================================================

Sebenarnya sederhana: tulang itu keras, harus keras maka ia bernama tulang, dan kerasnya tulang tidak bisa diterjemahkan menjadi “tulang adalah pro kekerasan”.

Begitu juga dengan gw dan amarah gw. Gw yang mengeluh tentang begitu sulitnya melakukan ibadah di negara orang.

Saat itu, Yang gw pikir hanya kata: "Pokoknya". Pokoknya gw berprinsip, ibadah itu harus lengkap dan genap, sholat yang harus begini, dan wudhu yang telah ditetapkan begitu. Makanya gw marah saat segalanya gw rasa kurang: Wudhu yang nggak berbasah-basahan dari kepala sampai ujung kaki, atau sholat tanpa rukuk dan sujud.

Gw berusaha menarik benang merah, bahwa semua itu nggak akan sulit jika kita mau lebih berserah diri dan pasrah. Pasrah itu bukan mencari, tapi menerima. Pasrah itu bukan menentang, tapi berpegang. Pasrah itu bukan kehilangan, melainkan keikhlasan.

Dari situ gw mulai sedikit memahami dan mencoba meresapi bahwa sesungguhnya gw HARUS percaya bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Pengertian dan Maha Pengampun.

Dan gw sadar, kesempurnaan wudhu dan gerak sholat yang selama ini gw tetapkan, adalah pertanda kesombongan gw bahwa selama ini gw tidak percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengertian dan Maha Pengampun, bahwa selama ini gw tidak meyakini sedalam-dalamnya bahwa Tuhan memiliki kesempurnaan atas sifat Maha Pengertian dan Maha Pengampun.

Inilah rasanya menjalani ibadah tanpa memahami apa yang dijalani. Merasa menyembah, tanpa mengenal kemuliaan yang disembah. Sungguh membutakan.

===============================================================================

Langit malam masih merembang, biru menghitam dan bintang-bintang lugu, malu-malu, bermunculan dalam diam. Menghela nafas, gw menutup mata gw, berusaha menangkap angin yang terasa menusuk dan dingin.

Masih banyak ilmu tentang kehidupan yang gw nggak paham. Ah, betapa masih dangkalnya pemahaman ini.[]

===============================================================================

Only he who has the power to punish can pardon...

                            

May 20, 2008

..my best..

Beberapa hari yang lalu, boss gw yang ganteng, Riki, datang berkunjung (kebetulan, kami nggak ngantor di lantai yang sama). Dan kunjungan itupun diakhiri dengan kalimat, “I’ve told you nearly one month ago to learn about TETRA!! why don’t you listen to me!!”.

Lantas William (boss gw juga) yang berdiri disitu memandang gw dengan iba, seolah berkata “Horotoyokono!!!” atau diartikan “Mampus lo!”.

Tapi entahlah, bagi gw, marahnya Riki kali ini adalah marah-marah yang begitu terdengar menggemaskan (menurut gw, itu namanya merajuk, bukan marah-marah. Barangkali dia kangen, kangen ama gw :p).

Exaggerated, gw majang tampang somay gw, sambil cengar-cengir,
“No, you didn’t told me so..”
“Yes I did!” Riki mengacungkan telunjuknya ke jidat gw.
“Nope, you did not!” gw cengengesan nggak mau kalah
“Yes Arum, I did!!” kali ini penuh penekanan, dia serius.
Jah, tetep aja gw senyam senyum badung,
“excuse moi, mister, you really.. did not..!!”
“Arrghh..” Riki menggeram, frustrated.

Gosh, he looks even more cute when frustrated (Risma & Lia dijamin ngiri).

========================================================================================

Nggak tau kenapa, gw suka banget ngeledekin boss gw yang galak sekaligus ganteng ini, sampe-sampe semua pacar-pacar gw (mantan lebih tepatnya) penasaran dan jealous setengah mati sama Riki. Padahal gw selama ini terlihat deket, tak lain dan tak bukan karena bisa jadi kita mengagumi karakter masing-masing.

Jujur aja, Riki cuma punya 3 kekurangan untuk membuatnya nyaris sempurna dimata gw: sudah menikah, suka babi, dan dia boss gw. Lain dari itu, nope, he’s totally above all range.

========================================================================================

Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Semua itu adalah fakta penciptaan yang tak terbantahkan. Makanya gw percaya ada hikmah kenapa gw harus ketemu sama Riki. Kami saling mengajarkan filosofi keilmuan how to respect and how to honour.

Kami punya trik yang sama untuk menghadapi kesulitan: “face it and get along with it. Let people think: why the hell he/she still can make it”. Kesamaan-kesamaan kecil itulah yang membuat kami saling berargumentasi, sering beradu pendapat, sering bertengkar kecil-kecilan, sering menuding: you are totally wrong. Tapi justru karena itulah kami memiliki semacam ikatan satu sama lain. Riki diam-diam sering melakukan sesuatu kebaikan demi gw, dan gw pun (kayaknya) sama.

Well, everything best only happen once in your lifetime. And I think, Riki is one of my best boss-friend.

It will be so damn hard, anyhow, if someday I have to give a resignation letter to him. But hey, life fakes time. We never know what really happen. God has a plan.

========================================================================================

Lagi asik bengong, one message received. Sebuah pesan sederhana masuk ke mailbox gw: “kapan kamu pulang?”

Pengirimnya seorang laki-laki Indonesia yang secara sadar gw cintai sedari dulu. Tapi ironisnya, gw selalu, dan akan selamanya murni dianggap sebagai seorang sahabat buat dia.

Well, everything best only happen once in your lifetime. And I hope, sang pria pengirim pesan sederhana tadi is my best, my only best.[]

May 11, 2008

..wanita: TKI..

Only silence that is the true friend that never betrays. Silence is so great, it feels like a black coffee with a slice of panettone cake. Perfectly sweet, smells good, but a bit surrounded by a bitterness—a bitterness of living.

Gw menggeser posisi punggung, mencari posisi yang lebih nyaman. Butir-butir moisture sisa musim semi yang menari-nari mengelilingi udara disekitar gw, berasa hangat, berat dan pekat. Akibatnya, langit malam yang harusnya hitam memikat, menjadi agak merah dan sedikit gelap.

Kaos Ho Chi Minh gw berkibar-kibar riang ditiup angin yang temperaturnya hampir bikin gw sinting. Panas memang, tapi gw menikmati hawa panas ini dalam kesendirian gw. Lagipula, I got a very breathtaking scenery up here. Very much entertaining, so the feel of hot and loneliness (heleh) has gone away.

Entahlah, gw kalo ketemu balkon, pasti bawaan gw menerawang, mikir-mikir hal-hal yang pernah lewat dihidup gw. Seperti halnya hal-hal baru ini, hal-hal yang menekan batin gw hingga sangat erat. Sampai-sampai gw nggak ngerti, apa yang harus gw lakukan.

====================================================================

Kemarin, gw jalan-jalan sama si Zikhry ke Victoria Park, menurut gosip, kalo kangen Indonesia, lu ngacir aja ke sana. Karena banyak pahlawan devisa (TKW - termasuk gw, hihihi) asal Indonesia yang main ke park—terlalu aneh kalo gw artikan ‘taman’—yang luas, terlihat hijau, tradisional namun hi-tech ini.

Belum masuk ke area park, gw udah disambut sama swalayan made in Indonesia. Gw lantas norak bukan main. Jingkrak-jingkrak bak anak kecil dibeliin boneka tinky winky. So excited!

Didepan toko itu ada beberapa wanita duduk-duduk, lesehan. Dari ciri khas betapa moving fast and so much western-nya kota ini, gw bisa nebak, pasti mbak-mbak ini orang Indonesia. Haha. No offense ya.

Gw memberanikan diri masuk kedalam, penasaran aja, apa sih yang dijual di warung Indonesia ini?

Setelah gw liat-liat, emang banyak banget produk Indonesia yang dijual disitu, dari kosmetik, makanan (ada nasi gudeg yang bisa dipanaskan loh!), bumbu, snack, beng-beng, bahkan ada MARNING! (cari diwikipedia deh kalo nggak tau Marning itu apa).

Harganyapun relatif sama, misalnya aja gw kemarin beli lotion vaseline, harganya 18 rebu di Indonesia, di sini dijual $16 (kurs $1 = Rp 1210). Trus kripik ‘Kusuka’ fave gw, harganya $6. intinya fair lah, nggak belagu yang punya toko.

Di toko sini juga ada pengiriman uang khusus, tanpa potongan. Ada juga electronic storenya, yang dijual hanya MP4 player, ponsel, n gadget telecom yang simple gitu lah. Nggak lupa jual emas-emas juga. Mungkin yang punya toko tau, kalo para TKW pada suka nyimpen emas.

Puas mampir-mampir ke warung tadi, gw memasuki area dalem Victoria Park. Well, typical khas orang Asia, kalo nggak foto-foto dulu, ya nggak apdol (afdhal). Haha!

Setelah gw n Zikhry menggila foto-foto, kami iseng duduk dideket situ, awalnya sebelah tempat duduk gw, orang Pakistan, ganteng! Mirip Rob Kardashian! Tapi nggak lama, orang itu pergi dan datanglah, guess what?! Mbak-mbak, berdua dengan logat yang jawa super medok!

Seperti biasa, gw anaknya excited-an, makanya mereka gw culik, ajak ngobrol dikit. Mereka seneng banget juga. Untuk mengkamuflase agar mereka lebih open wawancaranya, gw ama Zikhry ngaku anak kuliahan, lagi research. Waks!

====================================================================

Setelah beberapa waktu wawancara, muka gw nggak begitu excited lagi. Ada beberapa fakta yang bikin gw kesian aja sama mereka.

Standardnya, gaji mereka $3480 (HKD) sebulan (kurang lebih 4.210.800 IDR). Dan mereka harus setor ke PT (nyebutnya sih gitu, agen kali ya) $3000 perbulan selama 7 kali. Setornya gampang, bisa langsung, bisa lewat 7eleven (mirip-mirip Indomart di Indonesia).

Jadi intinya perbulan mereka cuma dapet $480 (580.800 IDR) aja. Kalo kontraknya 2 tahun, enak, tajir aja. Tapi kalo kontraknya cuma 12 bulan? Yah, mereka cuma punya waktu 5 bulan buat nikmatin full rate gaji mereka.

Gw terbayang, buset daaah (ini bukan umpatan), Zikhry aja ibaratnya dibayar beratus-ratus dollar per hari disini, kerja Zikhry yang nggak sampe jam 9 malem, dikenakan pajak juga nggak sampe $3000.

Wadoh kok begini amat realitanya!

Itupun masih ada satu-dua orang, karena NGGAK PUNYA (bukan MINIM) pengetahuan, baik pengetahuan tentang: minimum wage, rights and semua rules yang related and applied di sini, ada yang cuma dibayar $1800-$2000 sebulan!

Well, maybe money is not everything, but sometimes without money everything becomes nothing. Makanya dibela-belain.

Hm.. sujud gw bertambah dalam hanya untuk memikirkan hal ini.

====================================================================

Well anyway, mereka so pasti cerita yang seneng-seneng juga lah. Dalam kondisi seperti itupun mereka masih mensyukuri, jika mereka jauh lebih baik daripada TKW yang pergi ke Arab, atau Singapore. Karena di sini human rights lebih dihargai. Sebagian besar majikan sudah sadar terhadap hak-hak yang dimiliki para TKW ini, sehingga, the rights is fully given. Ditambah disini lebih bebas juga katanya. Haha jadi mereka bisa make baju suka-suka.

Nggak sadar, gw nyerocos aja, meminta mereka berpendapat, apa sebenernya harapan mereka terhadap pemerintah Indonesia saat ini. Kurang lebih jawabannya kayak gini:

"Gini lo mbak, pemerintah kita itu kurang memberikan penyuluhan buat kita-kita (kami, mungkin maksudnya), jadi kita banyak yang nggak tau soal aturan itu. Jadi kalo dapet majikan yang kurang ajar, kebanyakan, kita cuma diem aja, karena kita nggak tau hak kita sejauh mana.

Pelayanan di konsulat (KBRI) juga buruk. Kalo tanya-tanya dikit, mereka suka melayani dengan seenaknya, bentak-bentak. Tapi yah, dibanding yang lalu-lalu, pelayanannya meningkat sih, sekitar 2% (haha!).

Harusnya kayak konsulat pilifina (Philiphina), mereka itu bagus mbak pelayanannya, ngurus TKWnya juga serius, makanya jarang orang pilifin yang gajinya dibawah standar, jarang juga ada yang dikibulin sama majikannya, mereka berani ngelawan, karena mereka tau persis hak dan kewajiban mereka.”

====================================================================

Awan bergerak tanpa berarak namun melambat dan sekarat, hanya hening yang menemani panjangnya jeda helaan nafas Mbak Mini (nama sang TKW narasumber). Mungkin dia ingat anak-anaknya, bisa jadi dia ingat kampung halamannya. Gw nggak pernah tau.

Kalimat gw selanjutnya patah, penuh rasa bersalah, “apa yang bisa aku bantu, mbak mini?”. Mbak Mini cuma tersenyum, menepuk-nepuk pundak gw, “Sudah, sekolah saja yang benar”.[]

May 03, 2008

..sebakul cinta dari mereka..

Cinta itu seperti pasir. Semakin digenggam erat, semakin dia akan pergi dari jari-jari kita. Kalau tidak dijaga, dia akan hilang terbawa angin. Dan ketika kita melepaskan genggaman pasir itu, selalu ada butir-butir yang tetap menempel di tangan.

Begitulah seduhan cinta yang gw rasakan setiap hari, memuncak disaat kepergian gw dalam rangka menjadi TKW di negeri antah berantah: setengah British setengah China yang jaraknya hanya sepenggalan galah.

Disaat yang benar-benar krusial dalam hidup ini, gw merasakan betapa sangat nyata pemberian cinta dari orang-orang sekitar gw yang sayang sama gw (well, tentunya yang gw sayangi balik juga).

Seperti contohnya, emak gw yang selalu men”semangat”i gw setelah beberapa kali gw ngeluh: “mak, ranselnya jadi berat daaah..”. Dan emak gw dengan santai bercanda, “biar kamu semangat, kamu sambil gendong, keberatan, bilang aja: makanan, makanan, makanan, makanan.. kalo demi makanan kan jadi nggak berat”. Sementara nyokap serius, gw ngakak nggak karu-karuan.

Trus bokap gw juga, bolak-balik pesen taksi, walaupun waktu itu masih seminggu sebelum hari-H. Plus, gw dibawain buanyak banged Incidal (obat alergi) karena bokap tau, gw gila banget ama seafood (FYI, disono: melimpah-ruah). Walaupun, in contrary, gw alergi minta ampyun sama makanan laut (kebayang nyiksanya kan?). Belum lagi masalah gw dibawain jahe segede gede jempol kaki, dengan pesan-pesan sponsor: “Ingat, jauhi Chivas dan Johnny Walker, wahai anakku..”

Dari temen kantor, Ideh, Sobat gw yang paling seksi, dia ngasih gw baju batik untuk menyadarkan gw tentang pentingnya rasa nasionalisme dan patriotisme walaupun gw menjadi TKW di negeri orang. Kalimat terakhirnya nggak kalah lucu: “Mbak yum, jangan diliat dari harganya ya….. Malu..”. hahaha M-A-L-U. Well, entahlah, kata terakhirnya bikin gw geli sekaligus terharu.

Ada lagi si Risma, Sobat di kantor, yang beliin gw sendok garpu yang lucu banget, dengan alasan “buat di HK, kalo disana ghak iso sumpitan”. Plus tambahan kalimat nyeleneh di kartunya, “sori ya, aku nggak iso berpuisi, sikilku wes kesel muter-muter”. Tanpa ekspresi. Gw ngikik sambil guling-guling.

Ada juga Reza, yang dihari terakhir gw ngantor, dengan baiknya, bersedia nemenin gw sampe didetik terakhir. Lambaian tangan dalam diam-nya seolah berarti: “Pal, you will get that dream like what we’ve dreamt of!”. Dalam hatipun gw mengamini, “We will, by god’s will, we will have that future, dude!”.

Dan ada juga beberapa yang lain:
1. Bu Dian NTS (5 taun lagi gw siap jadi ekspat, boss!)
2. Pak Andi SMART (semoga kelahiran Salma membawa cahaya)
3. Caca (gw masih bisa dateng ke kawinan lu kok, bro)
4. Joseph
(iya, gw jagaain Zikhry *bukannya kebalik?!*)
5. Team Terroris/CT d'Oncoms (McClane akan kembali!)
6. Lia n Baby Wilson will be (send me the picture!)
7. Iqbal (nang kunu ghak enek dolly, dul)
8. Mas Irwan (iya, I will take care of me)
9. Mas Bayu (sebentar? Nehi!)
10. Niken (miniatur Jackal nggak dijual bebas oy)
11. Mohawk (u will always be my ishtar summer)
12. Hendro (karena lo yakinin gw, gw bisa ndro)
13. Fajar n Kirun
(yang diem aja, no comment & nemenin ngupil)
14. Mas Indra TSEL
(semoga rencana marketingnya sukses)

Plus semua orang-orang dan sahabat gw yang diem-diem mendoakan gw dalam diam dan kesunyian.

At least untuk saat ini, I know, gw nggak bakalan mati merana sebagai orang yg bukan siapa-siapa. I have friends, good friends of mine. Also have a lovable parents.

Well, pada hakikatnya, setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita. Dan gw dan segala keterbatasan gw, akan berusaha meraih semua cita-cita itu, demi orang-orang yang gw sayang.

I Love You All, guys.[]