« January 2008 | Main | April 2008 »

March 21, 2008

..wanita: yang bekerja yang dianiaya..

Gw: lo nggak tau alasan gw untuk tetep kerja dit, jangan timpang sebelah dulu

Radit: Nggak, pokoknya istri kudu di rumah urus anak & jaga amanah rumah

Gw: gw maklum kalo lo berpendapat gitu karena lo nggak tau background gw

Radit: kalo istri kerja, jadi lah istri pembakang, ga berkah istri kaya begitu

Gw: apapun itu, gw hargai pendapat lu, toh gw juga kagak mau merit ama lu

Radit: gara-gara ortunya dua-duanya kerja, jadi lah anak-anaknya anak pembantu, kasian de tu anak..

Gw: nggak, kalo emaknya gw, tujuan gw kerja bukan duit kok, insya allah mulia, banyak berkah

Radit: blom kawin seh bisa ngomong gampang, ntar kalo anak sakit .....uda cape kerja ..cape pula anak sakit

Gw: kalo kerjanya nggak nganggep beban, dan kalo anak nggak dianggap sebagai beban, sebagai manusia yang punya nurani, gw nggak akan ngerasa capek dit, lagian gw kan nggak kayak elo: PNS, tukang korupsi, narrow minded, overjudgmental pula..

=========================================================================================

Setelah berhari-hari, otak gw masih kram. Conversation gw sama si Radit Monyong barusan bener-bener triple strike (telek) banget buat gw. Gila apah! Secara nggak langsung gw didoain masup neraka ama dia. Sigh..!!

Well, rasanya kira-kira memang mustahil untuk bisa tepat mengenali manusia secara logis dan mendalam. Karena pemaknaan masing-masing individu terhadap suatu konsep atau cara pandang perihal tertentu JELAS berbeda, sejalan dengan perbedaan teori ilmiah yang dimiliki masing-masing. Singkatnya: mahzab filsafatnya beda.

Orang-orang kayak gini, berani melontarkan kritikan-kritikan maut tapi ngawur. Biasanya mereka meletakkan sasaran kritik mereka berdasarkan apa “maunya” mereka aja. Toh nggak harus sampe mengeluarkan kata-kata menyakitkan buat orang lain untuk menyampaikannya kan? Kalo kata kitab suci agama gw: “Dan ajaklah mereka berdebat dengan cara yang sebaik-baiknya (QS - 16:125)”.

Gw rasa sih, semuanya bakal baik-baik aja atas dasar dukungan dan kebijakan si husband will be agar nantinya kita dapat mengupayakan tawazun (keseimbangan) antara kerja, diri pribadi dan rumah tangga.

Gw adalah satu dari jutaan pemikir yang sadar akan tanggung jawab sosial gw, dan gw nggak akan ngelepas tanggung jawab itu barang sekejap.

Jadi, please deh para cowok, kompensasi dan hak trial sebagai wanita yang bekerja juga wajib diberikan kepada gw dan mungkin ribuan wanita yang kayak gw (diistilahkan: kaum mustadh’afin: orang-orang yang tertindas sepanjang jaman).[]

=========================================================================================

Dikutip dari buku kuwair:
Kecerdasan dan kecendekiawanan, adalah dua hal yang dapat membuat seseorang mampu memutuskan belenggu-belenggu yang membelit dirinya dan menjadikannya mampu mendahului jamannya.

                            

March 18, 2008

..a noble traits of character..

Senja meredup manja. Semburat biru mulai mendominasi kanvas merah di sore berbau laut itu. Leichhardt, with a beautiful water view, is my favourite place. Berjalan bertelanjang kaki, sepanjang the water's edge then follow the harbour foreshore for very long way has been put some undescribe-and-happy feeling for me.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Namun, kali ini gw hanya ingin merasakan kedamaiannya aja. No camera shutter, no cell phone, nobody, nothing. Hanya ada gw, biru laut, langit sore dan (tentunya) Tuhan.

"Mak!!"

Suara ini demikian familiar di gw. Dennis'.

"Weh, ngapain mak....?!"

Gw berkedip-kedip. Suasananya tiba-tiba berubah. Gw baru sadar, kayaknya gw barusan nggak sengaja ketiduran di meja kantor gw. (Dennis asem....).

===============================================================

Banyak ’pengunjung’ tetap cubical gw. Well, nggak sombong, tempat gw emang punya view paling bagus. Segala beban, kata temen-temen gw, kerasa plong kalo udah numpang duduk sebentar deket sini. (Bilang aja mau deket-deket gw hehe).

Salah satunya, Dennis. Dennis ini salah satu sahabat favorite gw dikantor. Dia typical cowok yang betul-betul bisa dibilang cowok banget. Lembut, manis, tata kramanya bagus, dan lucu.

Dia juga sangat bertanggung jawab, ya sama kerjaan, ya sama keluarganya (dia jadi kepala keluarga setelah papanya meninggal). Anaknya nggak gampang ngeluh, selalu bersyukur dan nerima apapun kondisi dia sekarang. Gw rasa dia bakal sukses dengan attitude dia yang pantang nyerah but so sweet dan nice itu.

Sebelum resign, Dennis sempat mengungkapkan, betapa bahagianya dia bisa ketemu lalu kerja bareng sama gw dan juga temen-temen yang lain.

===============================================================

Gw jadi inget, dulu gw punya temen kantor (sebut saja Sheila), anaknya bawel dan apatis banget. Seinget gw, udah banyak kata-kata nggak bersyukur keluar dari mulut dia. Padahal saat itu, kondisi Sheila (jauuuuuh banget) 89 kali lebih baik daripada Dennis.

Mending kalo cuma ngeluh (karena ngeluh itu manusiawi). Tapi ini mah: su’udzon ama orang, nyelain/nyacat orang, sama sekali nggak berterimakasih atas hidup, nggrundel (aduh, nggak ada terjemahan bahasa Indonesianya ”nggrundel”, maaf ya?). Well, kalo kata pak ustad gw di pengajian: ”Hatinya penuh kerewelan yang mubazir. Hatinya tak kunjung selesai.”

Kayaknya, energi, pikiran dan hatinya dikuras BUKAN untuk napak kedepan. Saat itu, dia lebih asyik mikirin gimana nyari kemungkinan pekerjaan lain yang menurutnya lebih berGENGSI dan berpendapatan lebih tinggi, dibanding asyik melatih ketrampilan baru atau rajin mencari peluang-peluang yang bisa mengembangkan hidupnya (hidup yang bukan sebatas pekerjaan aja).

Tapi sekalinya dibahas, malah kata-kata apatisnya Sheila yang keluar: "Seinget gw, setiap ada yang resign, lo selalu bersikap gitu tuh, ngejutekin orang pindah, kalo lo ga pindah kan, bukan berarti semua orang harus ga pindah"

Itu kalimat terakhir dari Sheila yang sangat-sangat mengecewakan gw. Rasa sayang gw kedia saat itu bener-bener terdiscount hampir 70%-nya. Emang sih, Sheila nggak satu-dua kali kayak gini sama gw, bahkan bisa dibilang Sheila mampu melampaui record cowok-cowok keparat dalam hidup gw dalam hal bikin gw nangis.

Gw sih mau aja jawab: ”you crazyface damn ass!” (dibahasakan: "Raimu, cuk!"). Tapi gw nggak tega, Sheila terlalu manis (diwajah) untuk disakiti. However, dia juga pernah bikin gw ketawa dan bikin gw seneng juga.

Well, namanya juga manusia, selalu rakus akan tuntutan, haus akan ketidakrelaan. Hatinya Sakaw: menagih, menagih, dan menagih.

Bisa jadi karena dia adalah produk dari suatu masyarakat feodal yang hobi memelihara kebodohan. Dia adalah anak dari jaman dungu yang tidak pernah menggali akal dan rasionalitas, sehingga tidak pernah mengerti bahwa menempuh hidup yang mulia adalah dengan menjalani hidup yang benar dan baik, tanpa menyakiti orang lain.

Sebenarnya persoalan ini, intinya bukan membahas tentang gw dan masalah gw sama Sheila. Gw cuma mau memberitakan, bahwa sebaiknya kita jangan gemampang, jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh apalagi menyakiti orang.

Jangan dipikir gula pasti manis atau pare pasti pait. Gula nggak mesti manis. Intelektual nggak mesti mampu berpikir. Dan sarjanapun nggak pasti pinter. Sama aja dengan 'kata-kata': mungkin lo gampang banget ngeluarinnya, tapi lo nggak akan tau gimana sulitnya kata-kata itu diterima oleh orang lain.

Kalo kata manager finance gw, Lia dan alkitabnya, "yang masuk kedalam mulut lo, apapun itu, keluarnya tetep sama. Jadi nggak masalah. Tapi, apa yang keluar dari mulut lo, itu yang harus lo pikirkan, karena lo nggak akan tau, gimana efeknya ke orang lain."

Lalu, Bokap gw juga menjabarkan hal yang sama lewat bahasa yang lebih simple: "Aji ning diri, soko lathi" - bagaimana kamu, adalah bagaimana lidahmu berujar.

===============================================================

Jadi, beranikah lo berperang melawan diri lo sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah? Sanggupkah lo mengalahkan obsesi kehidupan lo sendiri untuk merintis peperangan-peperangan yang at least lebih punya harga diri?

Segala makhluk adalah hamba Tuhan, dan segala hamba yang dicintai-Nya adalah yang sebanyak-banyak memberikan manfaat kepada makhluk-Nya. So, berhentilah untuk saling menyakiti.

Mulailah untuk membangun suatu noble traits of character (makarim al akhlak) dalam diri masing-masing. Mulailah meruntuhkan tembok-tembok kebanggaan terhadap sifat apatis yang lo miliki. Mulailah belajar mengeluarkan kata-kata yang lebih bijak.[]

===============================================================

This is dedicated to everybody who’s very proud to be an apathetic.

March 04, 2008

..Wanita: Beautifully Dangerous..

Seorang teman gw yang sangat pintar dan baik (bu Dian) bilang: “proof of life is, if you are a pretty woman, people will talk to you nicely, but for my case—as a proud ugly and old woman—they DON’T even need to STARE AT YOU while you were talking to them, needless to answering it nicely. Sanity really takes place for such behaviour”.

Wanita cantik memang selalu mendapat apologi untuk apapun kesalahannya. Mau dia matre kek, yang penting cantik. Mau dia oneng kek, yang penting cantik. Mau dia nge-babu-in elo kek, yang penting cantik. Well, sangking bodonya, kaum cowok pasti nerima-nerima aja (sebelum mereka bener-bener disakitin).

=========================================================================

“yOeM, gw tiap hari ada full 24 jam buat Rima. Pagi gw jemput, pulang gw anter. Bahkan karena kantor dia lebih jauh dari kantor gw, gw rela dia bawa mobil gw sedangkan gw naek bus. Apapun yang dia mau, sebisa mungkin gw penuhin. Gw sayang banget sama dia and 6 taon kayak gitu terus, for damn 6 years!!”.

Seperti biasa, kalo dicurhatin gitu, muka gw pasti ruwet (baca: cantik) banget: naik-naikin alis sambil manyun-manyun gak jelas. Radit benar-benar devastated. Pacarnya minta putus mendadak plus tanpa alasan (gosipnya sih kecantol pria yang lebih kaya).

Radit bergumam, “gw yakin, Rima pasti diSANTET

Waduh! Sambil setengah mendelik, gw membetulkan posisi duduk gw. Ampun deh, cowok memang benar-benar bodoh dan rapuh dalam kondisi terpuruk. Yang bisa gw lakukan saat itu, cuma men-tunyuk-tunyuk jidat gw, sambil sesekali geleng-geleng kepala (tunyuk-tunyuk = memencet yang memijat *heleh*).

Dihadapkan pada Radit yang masih bimbang dan menerawang, hati kecil gw menyesali, betapa kejamnya cewek-cewek model begini. Model cewek selfish matre nan manja plus nggak jelas. Model cewek yang menganggap “hati” itu cuma sekedar keratan daging yang bisa ditusuk, dirobek-robek, diuyel-uyel, dimainin, dibejek-bejek sak penake udhele dhewe. Cewek yang menganggap “otak”-nya hanya sebagai sumpel kepala (nggak ada bedanya sama sumpel beha) alih-alih biar kepalanya bagus, bundar dan terlihat ADA isinya.

Called me synical! Well, I do!

=========================================================================

“yah ndut, cewek gw nggak bisa diajak makan di angkringan (dipinggir jalan), kasian, dia nggak biasa…” (Padahal wisata kuliner itu SAMA SEKALI nggak asik kalo di mall)

“Rum, gw agak telat nih, bilang sorry ama anak-anak yeh, abisan cewek gw nelpon, katanya payungnya ketinggalan dirumah, dia mau minta ambilin payung, makanya gw mau kerumahnya dulu ngambil payung, trus ngantur tu payung ketempat lesnya. Abis itu baru gw kesituh”. (mending minta jemput sekalian pas pulang, dibanding harus stupidly nyuru-nyuru orang lain untuk ngambilin barang-barang lo..)

“Yum, gw kagak ikut dah. Gw lagi miskin, ga punya duit cash. ATM gw lagi dibawa ama cewek guah. Besok aja deh jalannya, sekalian ngajak cewek gw.” (Anjrit. Duit itu pake capek kali nyarinya)

(T___T) Hhhhh………

Jadi inget, gw pernah dikirimi SMS, isinya: “don’t pray for an easy life, but pray for becoming a stronger woman”. Hm, padahal masih banyak kata kata lain kayak: prettier, or smarter, or dsb dsb. Why has to be “stronger”? Kenapa justru konotasinya terkesan maskulin untuk sebuah subjek yang feminin? (sigh…). Gw berpikir keras, there must be something beyond this.

Look, selain cantik, perempuan itu harus mandiri, pintar dan berkarakter. Bukan pintar dalam batasan degree/ijazah, tapi juga emotively smart (bahasa engineernya: adaptif). Yang paling penting: dapat membangun pribadi yang egaliter (merasa sama dengan orang lain). Karena dengan menjadi sama, setidaknya kita menjadi lebih peka dan respect terhadap keadaan. (At least, being aware terhadap hak maupun kewajiban selayaknya perempuan yang berakal dan berbudi pekerti luhur).

Girls, hidup itu seni kompromi. Lo harus bisa mengkombinasikannya dengan ciamik (pas dan tepat). Jangan terlalu mengandalkan atau bergantung pada orang lain. Dan yang paling penting, belajarlah mengenali potensi diri sendiri demi hidup yang lebih baik.

Beuh, lagian rugi cong (dari bencong), kalo hari gini masih menjadi typical perempuan jadul jijay manja cupet kuper bodo. Anyway, untung banget kok kalo loe bisa mengkombinasikan cantik, pintar, dan kuat sekaligus dalam satu paket. Coz believe me, smart and beautiful women are seriously dangerous[]

=========================================================================

jika tak ada kertas, aku akan menulis pada dinding, jika aku menulis dilarang aku akan menulis dengan tetes darah! (Wiji Thukul)