« November 2007 | Main | January 2008 »

December 30, 2007

..sakit sendiri..

“Please don’t go, I’d take care of you for the rest of my life.. I promise you!”.

The air is as silence as it might be frozen. The impuls of the moment, nearly kills your nerves. Barely kills you, when the truth is even harder to absorb then a light.

Kalimat terakhir dari James benar-benar membuat gw mikir setengah mati. Namun apa daya, gw dengan teganya pergi gitu aja, bahkan tanpa sepatahpun kata a dieu ke dia. Well, kalaupun gw ingin, I’m in a half way back to Indonesia, dan rasanya gw bukan superman yang dengan oncomnya bisa terbang balik ke negara antah berantah itu.

================================================================================

Gw bahkan nggak kenal James sebelumnya. Gw baru kenal James setelah minggu pertama gw dinyatakan bebas menjelajahi that urban-living city by Boss gw, Riki.

Gw ketemu James saat gw sedang melepas ragu dan menikmati keramahan senja Star Avenue pada weekend itu. Akhirnya setelah beberapa test, gw memutuskan kalo James adalah jenis alien yang harmless dan bisa dinobatkan sebagai my new alien friend. Anyway, as he has lived for years there, so bisa dong, doi gw manfaatin jadi tour guide gw selama gw ada di this urban-living city.

Walaupun emang sih, dari pertama ngeliat gw, James nggak pernah lagi memalingkan matanya yang kadang biru kadang hijau dari gw. I know from the first time, he likes me.. a lot.

================================================================================

James always bilang, muka gw unik, mata gw begitu bening dan besar. James juga bilang, gw bahkan nggak perlu pake eye shadow atau Sharma (eye-liner) untuk mempertegas keindahan mata gw. James bilang, aura gw beneran kuat untuk membuat dia nggak bisa tidur setiap malamnya gara-gara gw. Pujian yang menurut gw aneh dan nggak wajar, coz I never being flattered like that before.

Cowok-cowok lokal (made in Indonesia) yang bersama gw, jarang ada yang bisa sejujur James. And I admit it, lama-lama, gw jadi penikmat kalimat-kalimat manis yang terlontar dari James.

Well anyway, I’d never take everything as a serious matter. Coz gw pikir, semua cowok alien itu memang suka terlalu ekspresif, jujur dan lebay, and fortunately, gw juga tipikal cewek yang perkasa dan kebal terhadap kata-kata perpisahan ataupun rayuan busuk seorang pria, sehingga gw lebih menikmati acara jalan-jalan gw dibanding kebersamaan gw bersama James.

Gw juga percaya pepatah kuno: “Janganlah tergesa-gesa, supaya tidak ada yang terluka” dalam membina sebuah relationship.

================================================================================

Well, anyway, gw merasa kalaupun gw jatuh cinta sama James, this kind of relationship will never work for us. We are just too different. Mata James terlalu biru untuk bisa melangutkan kehangatan cinta yang pastinya nggak berhenti dia kasih ke gw. James terlalu mirip tiang bendera untuk bisa gw pegang pipinya, saat gw pengen mengekspresikan betapa gemesnya gw sama segala jokes yang dia kasih. Rengkuhan James terlalu dalam untuk gw jadikan sandaran saat kami berdua terdiam menikmati malam.

Bayangan-bayangan itu terlalu terlalu nggak rasional, absurd dan impossible buat gw.

================================================================================

Gw selalu beharap dicintai laki-laki seperti halnya James mencintai gw. Gw selalu beharap dipandang laki laki sebagaimana the way I am seperti halnya James menerima gw apa adanya. But once it happened to me, the feeling just not right, everything went so wrong.

And finally, I hurt James so bad. Apalagi ketika dalam kalimat penolakan gw, James sempat berujar: “Sungguh, kupikir semua akan menyakitkan buatku untuk sekedar mengingat dan menikmati senyumanmu dari jauh…”

================================================================================

Hingga kini tiap malamnya, gw selalu melayang-layang, bermonolog, berdialog intensif dengan Tuhan. Ibarat Anritsu Wiltron, gw menerka-nerka apa yang salah dalam diri gw, nggak lupa memohon ampun sedalam-dalamnya kepada Tuhan atas segala luka dan kekecewaan yang gw goreskan didada kiri James.

================================================================================

Mencintai pada akhirnya bukan menjadi pilihan, melainkan sebuah keputusan. Itu merupakan suatu rumusan kesedihan yang tak terelakkan.

Gw harus bisa menata kembali perasaan gw yang juga hancur karena memikirkan kepedihan James. Gw harus bisa belajar menyederhanakan arti cinta, dan menerima segala kekacauan yang gw buat ini sebagai bentuk pertanggung jawaban gw.

Walaupun dalam hati kecil gw, gw sempat bersumpah, jika suatu saat, gw ketemu another “James”, gw akan mulai belajar mensikapi perbedaan itu searif mungkin. Sehingga nggak akan ada lagi yang merasa sakit atau disakiti. Karena, sumpah, menyakiti orang lain itu terasa lebih menghimpit dan menyesakkan dada lo sendiri.[]

================================================================================

Jika Kau dan Aku, Jalannya telah berbeda, Haruskah kita Berharap.. Langit kan beri jawaban
                            

December 29, 2007

..Pelajaran pendidikan..

Bongkahan Lion Rock disisi barat, dengan angkuh merajai dan mengisi setengah langit merah yang sedikit-sedikit mulai merembang, kadang biru kadang hitam.

Gw merasa, seolah batu itu bernyawa dan bisa merasa. Sejatinya, gw memang pengen seseorang ngerti kalo saat itu perasaan gw sedang dihimpit ragu, dan dalam kungkungan rasa tak menentu.

Disebelah gw, Si Boss masih aja karaokean pake lagu Cina sambil tancap gas over 120 Kmph. Harusnya dia ikut Cantonese Idol, well, I admit it, kualitas suaranya lebih banget dari sederet hurup: l-u-m-a-y-a-n.

“Arum, if you were could, do you want to be a teacher?”

Speed FTO sporty merah ini mulai melambat. 100 Kmph. 90 Kmph. 80 Kmph.

“Hey Arum, I’m talking to you!” suara si Boss yang mulai meninggi, menarik gw untuk segera ‘go back to earth’.

“What what what?” dengan gelagepan, gw membetulkan posisi duduk gw.

Si Boss cuman geleng-geleng kepala. “I was asking, if you were could, do you want to be a teacher?”

Seinget gw, gw cuma taking a long sigh, lalu dengan berat hati berucap, “If I could, I wish I could, Boss…..”.

Well, saat itu gw nggak perduli, Ricky ngerti apa nggak maksut kalimat gw.

================================================================================

Ujung-ujungnya, Ricky dan gw malah ngebahas masalah pendidikan. Seru juga sih.

Awalnya gw dengan cengceremet bilang kalo gaji guru/pengajar di Indonesia itu kecil banget, kualitas pengajarnya juga nggak begitu baik karena sistem rekruitmen dan pengembangan pola ajar nggak ditata dan diatur dengan layak.

Padahal, biaya pendidikan di Indonesia mahal. Kalau mau dapat yang berkualitas, nggak gratis (Ricky bilang di HK, sekolah sampai kelas 12 gratis, dan orang tua bisa di penjara kalo nggak ngasih pendidikan yang layak buat anak-anaknya).

Dan oncomnya, Indonesia juga mengalami kesulitan untuk mengimplementasikan pendidikan gratis. Karena peserta didiknya nggak punya ethos belajar yang baik. Dan di negara yang rata-rata peserta didiknya berethos buruk, pendidikan gratis adalah salah satu gerbang menuju kebangkrutan negara.

Why?

Karena orang tua akan lebih ketat mengawasi pendidikan anak jika biaya pendidikan betul-betul mereka tanggung sendiri. Kalau gratis? Ya sekolah sekenanya saja, tanpa esensi, tanpa pemaknaan, tanpa output, nothing at all. Hasilnya? Negara seperti buang-buang duit aja.

Ricky cuman mengangguk-angguk. Dia pun menyambung cerita panjang tentang Guru dan Dokter yang dibayar sangat kecil di Cina.

“Arum, do you know the reason behind? As we all know, government could pay them as high as possible if they want to..” Ricky masih memandang lurus ke cakrawala merah. “Do you know why?” Kali ini dia tersenyum ke arah gw (lebih tepatnya “smirking” not smiling).

“do you… know?” Gw dengan bego (sambil garuk-garuk) bertanya balik.

Ricky tertawa lebar, I never see him Laugh that hard.

================================================================================

Dengan rendahnya level penghasilan guru, otomatis orang-orang yang bisa dibilang “berbobot dan pintar” pastinya nggak memilih “menjadi guru” sebagai profesi/jenjang karier. Otomatis, bangsa yang kekurangan guru berkualitas, ya jadi terbelakang, ujung-ujungnya rakyat yang terbelakang itu gampang di stir pemerintah.

Itu di Cina lho. Di Cina. Nggak tau deh kalau di Indonesia. (gw: ngakak)

================================================================================

Seperti yang kita tau, pendidikan akan mengantarkan kita kepada bagaimana kita dapat berpikir secara benar, dan berpikir yang benar merupakan pengantar menuju pengetahuan yang benar.

Kebenaran tersebut akan membukakan pintu “kesadaran” kita. Coz tanpa kesadaran, kita hanyalah homo sapien berwawasan sempit dan bisa jadi terjerumus kepada kepengikutan buta terhadap berbagai macam khufarat, dan pada gilirannya akan menjelma menjadi batu keras yang menghalangi kemajuan umat.

Kata Mbak Mel, temen guah, "...kita tidak akan pernah cukup punya waktu, untuk mengalami semua kejadian dan menarik pelajaran...". Akhirnya kalo mikirin pendidikan di Indonesia yang kacrut-kacrutan, gw cuman bisa mlongo.

Dalam kumpulan langit gelap dan lansekap hitam yang memekat, butir hujan mulai berlomba membasuh tanah. Gw menghela nafas panjang, terdiam, ditemani gerakan wiper yang menyapu sangar namun samar.

Oh dewi pendidikan, kapan mampir ke Indonesia?![]