May 11, 2008

..wanita: TKI..

Only silence that is the true friend that never betrays. Silence is so great, it feels like a black coffee with a slice of panettone cake. Perfectly sweet, smells good, but a bit surrounded by a bitterness—a bitterness of living.

Gw menggeser posisi punggung, mencari posisi yang lebih nyaman. Butir-butir moisture sisa musim semi yang menari-nari mengelilingi udara disekitar gw, berasa hangat, berat dan pekat. Akibatnya, langit malam yang harusnya hitam memikat, menjadi agak merah dan sedikit gelap.

Kaos Ho Chi Minh gw berkibar-kibar riang ditiup angin yang temperaturnya hampir bikin gw sinting. Panas memang, tapi gw menikmati hawa panas ini dalam kesendirian gw. Lagipula, I got a very breathtaking scenery up here. Very much entertaining, so the feel of hot and loneliness (heleh) has gone away.

Entahlah, gw kalo ketemu balkon, pasti bawaan gw menerawang, mikir-mikir hal-hal yang pernah lewat dihidup gw. Seperti halnya hal-hal baru ini, hal-hal yang menekan batin gw hingga sangat erat. Sampai-sampai gw nggak ngerti, apa yang harus gw lakukan.

====================================================================

Kemarin, gw jalan-jalan sama si Zikhry ke Victoria Park, menurut gosip, kalo kangen Indonesia, lu ngacir aja ke sana. Karena banyak pahlawan devisa (TKW - termasuk gw, hihihi) asal Indonesia yang main ke park—terlalu aneh kalo gw artikan ‘taman’—yang luas, terlihat hijau, tradisional namun hi-tech ini.

Belum masuk ke area park, gw udah disambut sama swalayan made in Indonesia. Gw lantas norak bukan main. Jingkrak-jingkrak bak anak kecil dibeliin boneka tinky winky. So excited!

Didepan toko itu ada beberapa wanita duduk-duduk, lesehan. Dari ciri khas betapa moving fast and so much western-nya kota ini, gw bisa nebak, pasti mbak-mbak ini orang Indonesia. Haha. No offense ya.

Gw memberanikan diri masuk kedalam, penasaran aja, apa sih yang dijual di warung Indonesia ini?

Setelah gw liat-liat, emang banyak banget produk Indonesia yang dijual disitu, dari kosmetik, makanan (ada nasi gudeg yang bisa dipanaskan loh!), bumbu, snack, beng-beng, bahkan ada MARNING! (cari diwikipedia deh kalo nggak tau Marning itu apa).

Harganyapun relatif sama, misalnya aja gw kemarin beli lotion vaseline, harganya 18 rebu di Indonesia, di sini dijual $16 (kurs $1 = Rp 1210). Trus kripik ‘Kusuka’ fave gw, harganya $6. intinya fair lah, nggak belagu yang punya toko.

Di toko sini juga ada pengiriman uang khusus, tanpa potongan. Ada juga electronic storenya, yang dijual hanya MP4 player, ponsel, n gadget telecom yang simple gitu lah. Nggak lupa jual emas-emas juga. Mungkin yang punya toko tau, kalo para TKW pada suka nyimpen emas.

Puas mampir-mampir ke warung tadi, gw memasuki area dalem Victoria Park. Well, typical khas orang Asia, kalo nggak foto-foto dulu, ya nggak apdol (afdhal). Haha!

Setelah gw n Zikhry menggila foto-foto, kami iseng duduk dideket situ, awalnya sebelah tempat duduk gw, orang Pakistan, ganteng! Mirip Rob Kardashian! Tapi nggak lama, orang itu pergi dan datanglah, guess what?! Mbak-mbak, berdua dengan logat yang jawa super medok!

Seperti biasa, gw anaknya excited-an, makanya mereka gw culik, ajak ngobrol dikit. Mereka seneng banget juga. Untuk mengkamuflase agar mereka lebih open wawancaranya, gw ama Zikhry ngaku anak kuliahan, lagi research. Waks!

====================================================================

Setelah beberapa waktu wawancara, muka gw nggak begitu excited lagi. Ada beberapa fakta yang bikin gw kesian aja sama mereka.

Standardnya, gaji mereka $3480 (HKD) sebulan (kurang lebih 4.210.800 IDR). Dan mereka harus setor ke PT (nyebutnya sih gitu, agen kali ya) $3000 perbulan selama 7 kali. Setornya gampang, bisa langsung, bisa lewat 7eleven (mirip-mirip Indomart di Indonesia).

Jadi intinya perbulan mereka cuma dapet $480 (580.800 IDR) aja. Kalo kontraknya 2 tahun, enak, tajir aja. Tapi kalo kontraknya cuma 12 bulan? Yah, mereka cuma punya waktu 5 bulan buat nikmatin full rate gaji mereka.

Gw terbayang, buset daaah (ini bukan umpatan), Zikhry aja ibaratnya dibayar beratus-ratus dollar per hari disini, kerja Zikhry yang nggak sampe jam 9 malem, dikenakan pajak juga nggak sampe $3000.

Wadoh kok begini amat realitanya!

Itupun masih ada satu-dua orang, karena NGGAK PUNYA (bukan MINIM) pengetahuan, baik pengetahuan tentang: minimum wage, rights and semua rules yang related and applied di sini, ada yang cuma dibayar $1800-$2000 sebulan!

Well, maybe money is not everything, but sometimes without money everything becomes nothing. Makanya dibela-belain.

Hm.. sujud gw bertambah dalam hanya untuk memikirkan hal ini.

====================================================================

Well anyway, mereka so pasti cerita yang seneng-seneng juga lah. Dalam kondisi seperti itupun mereka masih mensyukuri, jika mereka jauh lebih baik daripada TKW yang pergi ke Arab, atau Singapore. Karena di sini human rights lebih dihargai. Sebagian besar majikan sudah sadar terhadap hak-hak yang dimiliki para TKW ini, sehingga, the rights is fully given. Ditambah disini lebih bebas juga katanya. Haha jadi mereka bisa make baju suka-suka.

Nggak sadar, gw nyerocos aja, meminta mereka berpendapat, apa sebenernya harapan mereka terhadap pemerintah Indonesia saat ini. Kurang lebih jawabannya kayak gini:

"Gini lo mbak, pemerintah kita itu kurang memberikan penyuluhan buat kita-kita (kami, mungkin maksudnya), jadi kita banyak yang nggak tau soal aturan itu. Jadi kalo dapet majikan yang kurang ajar, kebanyakan, kita cuma diem aja, karena kita nggak tau hak kita sejauh mana.

Pelayanan di konsulat (KBRI) juga buruk. Kalo tanya-tanya dikit, mereka suka melayani dengan seenaknya, bentak-bentak. Tapi yah, dibanding yang lalu-lalu, pelayanannya meningkat sih, sekitar 2% (haha!).

Harusnya kayak konsulat pilifina (Philiphina), mereka itu bagus mbak pelayanannya, ngurus TKWnya juga serius, makanya jarang orang pilifin yang gajinya dibawah standar, jarang juga ada yang dikibulin sama majikannya, mereka berani ngelawan, karena mereka tau persis hak dan kewajiban mereka.”

====================================================================

Awan bergerak tanpa berarak namun melambat dan sekarat, hanya hening yang menemani panjangnya jeda helaan nafas Mbak Mini (nama sang TKW narasumber). Mungkin dia ingat anak-anaknya, bisa jadi dia ingat kampung halamannya. Gw nggak pernah tau.

Kalimat gw selanjutnya patah, penuh rasa bersalah, “apa yang bisa aku bantu, mbak mini?”. Mbak Mini cuma tersenyum, menepuk-nepuk pundak gw, “Sudah, sekolah saja yang benar”.[]

                            

May 03, 2008

..sebakul cinta dari mereka..

Cinta itu seperti pasir. Semakin digenggam erat, semakin dia akan pergi dari jari-jari kita. Kalau tidak dijaga, dia akan hilang terbawa angin. Dan ketika kita melepaskan genggaman pasir itu, selalu ada butir-butir yang tetap menempel di tangan.

Begitulah seduhan cinta yang gw rasakan setiap hari, memuncak disaat kepergian gw dalam rangka menjadi TKW di negeri antah berantah: setengah British setengah China yang jaraknya hanya sepenggalan galah.

Disaat yang benar-benar krusial dalam hidup ini, gw merasakan betapa sangat nyata pemberian cinta dari orang-orang sekitar gw yang sayang sama gw (well, tentunya yang gw sayangi balik juga).

Seperti contohnya, emak gw yang selalu men”semangat”i gw setelah beberapa kali gw ngeluh: “mak, ranselnya jadi berat daaah..”. Dan emak gw dengan santai bercanda, “biar kamu semangat, kamu sambil gendong, keberatan, bilang aja: makanan, makanan, makanan, makanan.. kalo demi makanan kan jadi nggak berat”. Sementara nyokap serius, gw ngakak nggak karu-karuan.

Trus bokap gw juga, bolak-balik pesen taksi, walaupun waktu itu masih seminggu sebelum hari-H. Plus, gw dibawain buanyak banged Incidal (obat alergi) karena bokap tau, gw gila banget ama seafood (FYI, disono: melimpah-ruah). Walaupun, in contrary, gw alergi minta ampyun sama makanan laut (kebayang nyiksanya kan?). Belum lagi masalah gw dibawain jahe segede gede jempol kaki, dengan pesan-pesan sponsor: “Ingat, jauhi Chivas dan Johnny Walker, wahai anakku..”

Dari temen kantor, Ideh, Sobat gw yang paling seksi, dia ngasih gw baju batik untuk menyadarkan gw tentang pentingnya rasa nasionalisme dan patriotisme walaupun gw menjadi TKW di negeri orang. Kalimat terakhirnya nggak kalah lucu: “Mbak yum, jangan diliat dari harganya ya….. Malu..”. hahaha M-A-L-U. Well, entahlah, kata terakhirnya bikin gw geli sekaligus terharu.

Ada lagi si Risma, Sobat di kantor, yang beliin gw sendok garpu yang lucu banget, dengan alasan “buat di HK, kalo disana ghak iso sumpitan”. Plus tambahan kalimat nyeleneh di kartunya, “sori ya, aku nggak iso berpuisi, sikilku wes kesel muter-muter”. Tanpa ekspresi. Gw ngikik sambil guling-guling.

Ada juga Reza, yang dihari terakhir gw ngantor, dengan baiknya, bersedia nemenin gw sampe didetik terakhir. Lambaian tangan dalam diam-nya seolah berarti: “Pal, you will get that dream like what we’ve dreamt of!”. Dalam hatipun gw mengamini, “We will, by god’s will, we will have that future, dude!”.

Dan ada juga beberapa yang lain:
1. Bu Dian NTS (5 taun lagi gw siap jadi ekspat, boss!)
2. Pak Andi SMART (semoga kelahiran Salma membawa cahaya)
3. Caca (gw masih bisa dateng ke kawinan lu kok, bro)
4. Joseph
(iya, gw jagaain Zikhry *bukannya kebalik?!*)
5. Team Terroris/CT d'Oncoms (McClane akan kembali!)
6. Lia n Baby Wilson will be (send me the picture!)
7. Iqbal (nang kunu ghak enek dolly, dul)
8. Mas Irwan (iya, I will take care of me)
9. Mas Bayu (sebentar? Nehi!)
10. Niken (miniatur Jackal nggak dijual bebas oy)
11. Mohawk (u will always be my ishtar summer)
12. Hendro (karena lo yakinin gw, gw bisa ndro)
13. Fajar n Kirun
(yang diem aja, no comment & nemenin ngupil)
14. Mas Indra TSEL
(semoga rencana marketingnya sukses)

Plus semua orang-orang dan sahabat gw yang diem-diem mendoakan gw dalam diam dan kesunyian.

At least untuk saat ini, I know, gw nggak bakalan mati merana sebagai orang yg bukan siapa-siapa. I have friends, good friends of mine. Also have a lovable parents.

Well, pada hakikatnya, setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita. Dan gw dan segala keterbatasan gw, akan berusaha meraih semua cita-cita itu, demi orang-orang yang gw sayang.

I Love You All, guys.[]

April 30, 2008

..That Letter..

~...~.~...~.~...~.~.~.~....~...~.~...~.~.~.~..~..~..~.~...~.~.~.~.~.~...~.~.~.~....~...~.~.~.~.~...~.~.~...~..~

Aku masih mencintaimu meski diatas kertas cinta itu terlarang. Kusadari bahwa aku telah mencintaimu semenjak dulu.

Semua foto dan surat telah terlanjur kubakar (setidaknya agar kita berdua menjadi tenang). Walaupun sesungguhnya hatiku hancur saat api menghanguskan hartaku yang paling berharga itu.

Tetapi gambar, suara, dan bayang jelas dirimu dihatiku.. mustahil bisa kusirnakan.

Pesan ini bukan simbol bahwa aku mengajakmu rujuk dan bisa menerimaku kembali. Aku hanya ingin menyampaikan berita tentang aku. Tentang aku yang lelah.. dan sangat lelah hidup tanpa dirimu.

-Faraz-

~...~.~...~.~...~.~.~.~....~...~.~...~.~.~.~..~..~..~.~...~.~.~.~.~.~...~.~.~.~....~...~.~.~.~.~...~.~.~...~..~

March 21, 2008

..wanita: yang bekerja yang dianiaya..

Gw: lo nggak tau alasan gw untuk tetep kerja dit, jangan timpang sebelah dulu

Radit: Nggak, pokoknya istri kudu di rumah urus anak & jaga amanah rumah

Gw: gw maklum kalo lo berpendapat gitu karena lo nggak tau background gw

Radit: kalo istri kerja, jadi lah istri pembakang, ga berkah istri kaya begitu

Gw: apapun itu, gw hargai pendapat lu, toh gw juga kagak mau merit ama lu

Radit: gara-gara ortunya dua-duanya kerja, jadi lah anak-anaknya anak pembantu, kasian de tu anak..

Gw: nggak, kalo emaknya gw, tujuan gw kerja bukan duit kok, insya allah mulia, banyak berkah

Radit: blom kawin seh bisa ngomong gampang, ntar kalo anak sakit .....uda cape kerja ..cape pula anak sakit

Gw: kalo kerjanya nggak nganggep beban, dan kalo anak nggak dianggap sebagai beban, sebagai manusia yang punya nurani, gw nggak akan ngerasa capek dit, lagian gw kan nggak kayak elo: PNS, tukang korupsi, narrow minded, overjudgmental pula..

=========================================================================================

Setelah berhari-hari, otak gw masih kram. Conversation gw sama si Radit Monyong barusan bener-bener triple strike (telek) banget buat gw. Gila apah! Secara nggak langsung gw didoain masup neraka ama dia. Sigh..!!

Well, rasanya kira-kira memang mustahil untuk bisa tepat mengenali manusia secara logis dan mendalam. Karena pemaknaan masing-masing individu terhadap suatu konsep atau cara pandang perihal tertentu JELAS berbeda, sejalan dengan perbedaan teori ilmiah yang dimiliki masing-masing. Singkatnya: mahzab filsafatnya beda.

Orang-orang kayak gini, berani melontarkan kritikan-kritikan maut tapi ngawur. Biasanya mereka meletakkan sasaran kritik mereka berdasarkan apa “maunya” mereka aja. Toh nggak harus sampe mengeluarkan kata-kata menyakitkan buat orang lain untuk menyampaikannya kan? Kalo kata kitab suci agama gw: “Dan ajaklah mereka berdebat dengan cara yang sebaik-baiknya (QS - 16:125)”.

Gw rasa sih, semuanya bakal baik-baik aja atas dasar dukungan dan kebijakan si husband will be agar nantinya kita dapat mengupayakan tawazun (keseimbangan) antara kerja, diri pribadi dan rumah tangga.

Gw adalah satu dari jutaan pemikir yang sadar akan tanggung jawab sosial gw, dan gw nggak akan ngelepas tanggung jawab itu barang sekejap.

Jadi, please deh para cowok, kompensasi dan hak trial sebagai wanita yang bekerja juga wajib diberikan kepada gw dan mungkin ribuan wanita yang kayak gw (diistilahkan: kaum mustadh’afin: orang-orang yang tertindas sepanjang jaman).[]

=========================================================================================

Dikutip dari buku kuwair:
Kecerdasan dan kecendekiawanan, adalah dua hal yang dapat membuat seseorang mampu memutuskan belenggu-belenggu yang membelit dirinya dan menjadikannya mampu mendahului jamannya.

March 18, 2008

..a noble traits of character..

Senja meredup manja. Semburat biru mulai mendominasi kanvas merah di sore berbau laut itu. Leichhardt, with a beautiful water view, is my favourite place. Berjalan bertelanjang kaki, sepanjang the water's edge then follow the harbour foreshore for very long way has been put some undescribe-and-happy feeling for me.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Namun, kali ini gw hanya ingin merasakan kedamaiannya aja. No camera shutter, no cell phone, nobody, nothing. Hanya ada gw, biru laut, langit sore dan (tentunya) Tuhan.

"Mak!!"

Suara ini demikian familiar di gw. Dennis'.

"Weh, ngapain mak....?!"

Gw berkedip-kedip. Suasananya tiba-tiba berubah. Gw baru sadar, kayaknya gw barusan nggak sengaja ketiduran di meja kantor gw. (Dennis asem....).

===============================================================

Banyak ’pengunjung’ tetap cubical gw. Well, nggak sombong, tempat gw emang punya view paling bagus. Segala beban, kata temen-temen gw, kerasa plong kalo udah numpang duduk sebentar deket sini. (Bilang aja mau deket-deket gw hehe).

Salah satunya, Dennis. Dennis ini salah satu sahabat favorite gw dikantor. Dia typical cowok yang betul-betul bisa dibilang cowok banget. Lembut, manis, tata kramanya bagus, dan lucu.

Dia juga sangat bertanggung jawab, ya sama kerjaan, ya sama keluarganya (dia jadi kepala keluarga setelah papanya meninggal). Anaknya nggak gampang ngeluh, selalu bersyukur dan nerima apapun kondisi dia sekarang. Gw rasa dia bakal sukses dengan attitude dia yang pantang nyerah but so sweet dan nice itu.

Sebelum resign, Dennis sempat mengungkapkan, betapa bahagianya dia bisa ketemu lalu kerja bareng sama gw dan juga temen-temen yang lain.

===============================================================

Gw jadi inget, dulu gw punya temen kantor (sebut saja Sheila), anaknya bawel dan apatis banget. Seinget gw, udah banyak kata-kata nggak bersyukur keluar dari mulut dia. Padahal saat itu, kondisi Sheila (jauuuuuh banget) 89 kali lebih baik daripada Dennis.

Mending kalo cuma ngeluh (karena ngeluh itu manusiawi). Tapi ini mah: su’udzon ama orang, nyelain/nyacat orang, sama sekali nggak berterimakasih atas hidup, nggrundel (aduh, nggak ada terjemahan bahasa Indonesianya ”nggrundel”, maaf ya?). Well, kalo kata pak ustad gw di pengajian: ”Hatinya penuh kerewelan yang mubazir. Hatinya tak kunjung selesai.”

Kayaknya, energi, pikiran dan hatinya dikuras BUKAN untuk napak kedepan. Saat itu, dia lebih asyik mikirin gimana nyari kemungkinan pekerjaan lain yang menurutnya lebih berGENGSI dan berpendapatan lebih tinggi, dibanding asyik melatih ketrampilan baru atau rajin mencari peluang-peluang yang bisa mengembangkan hidupnya (hidup yang bukan sebatas pekerjaan aja).

Tapi sekalinya dibahas, malah kata-kata apatisnya Sheila yang keluar: "Seinget gw, setiap ada yang resign, lo selalu bersikap gitu tuh, ngejutekin orang pindah, kalo lo ga pindah kan, bukan berarti semua orang harus ga pindah"

Itu kalimat terakhir dari Sheila yang sangat-sangat mengecewakan gw. Rasa sayang gw kedia saat itu bener-bener terdiscount hampir 70%-nya. Emang sih, Sheila nggak satu-dua kali kayak gini sama gw, bahkan bisa dibilang Sheila mampu melampaui record cowok-cowok keparat dalam hidup gw dalam hal bikin gw nangis.

Gw sih mau aja jawab: ”you crazyface damn ass!” (dibahasakan: "Raimu, cuk!"). Tapi gw nggak tega, Sheila terlalu manis (diwajah) untuk disakiti. However, dia juga pernah bikin gw ketawa dan bikin gw seneng juga.

Well, namanya juga manusia, selalu rakus akan tuntutan, haus akan ketidakrelaan. Hatinya Sakaw: menagih, menagih, dan menagih.

Bisa jadi karena dia adalah produk dari suatu masyarakat feodal yang hobi memelihara kebodohan. Dia adalah anak dari jaman dungu yang tidak pernah menggali akal dan rasionalitas, sehingga tidak pernah mengerti bahwa menempuh hidup yang mulia adalah dengan menjalani hidup yang benar dan baik, tanpa menyakiti orang lain.

Sebenarnya persoalan ini, intinya bukan membahas tentang gw dan masalah gw sama Sheila. Gw cuma mau memberitakan, bahwa sebaiknya kita jangan gemampang, jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh apalagi menyakiti orang.

Jangan dipikir gula pasti manis atau pare pasti pait. Gula nggak mesti manis. Intelektual nggak mesti mampu berpikir. Dan sarjanapun nggak pasti pinter. Sama aja dengan 'kata-kata': mungkin lo gampang banget ngeluarinnya, tapi lo nggak akan tau gimana sulitnya kata-kata itu diterima oleh orang lain.

Kalo kata manager finance gw, Lia dan alkitabnya, "yang masuk kedalam mulut lo, apapun itu, keluarnya tetep sama. Jadi nggak masalah. Tapi, apa yang keluar dari mulut lo, itu yang harus lo pikirkan, karena lo nggak akan tau, gimana efeknya ke orang lain."

Lalu, Bokap gw juga menjabarkan hal yang sama lewat bahasa yang lebih simple: "Aji ning diri, soko lathi" - bagaimana kamu, adalah bagaimana lidahmu berujar.

===============================================================

Jadi, beranikah lo berperang melawan diri lo sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah? Sanggupkah lo mengalahkan obsesi kehidupan lo sendiri untuk merintis peperangan-peperangan yang at least lebih punya harga diri?

Segala makhluk adalah hamba Tuhan, dan segala hamba yang dicintai-Nya adalah yang sebanyak-banyak memberikan manfaat kepada makhluk-Nya. So, berhentilah untuk saling menyakiti.

Mulailah untuk membangun suatu noble traits of character (makarim al akhlak) dalam diri masing-masing. Mulailah meruntuhkan tembok-tembok kebanggaan terhadap sifat apatis yang lo miliki. Mulailah belajar mengeluarkan kata-kata yang lebih bijak.[]

===============================================================

This is dedicated to everybody who’s very proud to be an apathetic.

March 04, 2008

..Wanita: Beautifully Dangerous..

Seorang teman gw yang sangat pintar dan baik (bu Dian) bilang: “proof of life is, if you are a pretty woman, people will talk to you nicely, but for my case—as a proud ugly and old woman—they DON’T even need to STARE AT YOU while you were talking to them, needless to answering it nicely. Sanity really takes place for such behaviour”.

Wanita cantik memang selalu mendapat apologi untuk apapun kesalahannya. Mau dia matre kek, yang penting cantik. Mau dia oneng kek, yang penting cantik. Mau dia nge-babu-in elo kek, yang penting cantik. Well, sangking bodonya, kaum cowok pasti nerima-nerima aja (sebelum mereka bener-bener disakitin).

=========================================================================

“yOeM, gw tiap hari ada full 24 jam buat Rima. Pagi gw jemput, pulang gw anter. Bahkan karena kantor dia lebih jauh dari kantor gw, gw rela dia bawa mobil gw sedangkan gw naek bus. Apapun yang dia mau, sebisa mungkin gw penuhin. Gw sayang banget sama dia and 6 taon kayak gitu terus, for damn 6 years!!”.

Seperti biasa, kalo dicurhatin gitu, muka gw pasti ruwet (baca: cantik) banget: naik-naikin alis sambil manyun-manyun gak jelas. Radit benar-benar devastated. Pacarnya minta putus mendadak plus tanpa alasan (gosipnya sih kecantol pria yang lebih kaya).

Radit bergumam, “gw yakin, Rima pasti diSANTET

Waduh! Sambil setengah mendelik, gw membetulkan posisi duduk gw. Ampun deh, cowok memang benar-benar bodoh dan rapuh dalam kondisi terpuruk. Yang bisa gw lakukan saat itu, cuma men-tunyuk-tunyuk jidat gw, sambil sesekali geleng-geleng kepala (tunyuk-tunyuk = memencet yang memijat *heleh*).

Dihadapkan pada Radit yang masih bimbang dan menerawang, hati kecil gw menyesali, betapa kejamnya cewek-cewek model begini. Model cewek selfish matre nan manja plus nggak jelas. Model cewek yang menganggap “hati” itu cuma sekedar keratan daging yang bisa ditusuk, dirobek-robek, diuyel-uyel, dimainin, dibejek-bejek sak penake udhele dhewe. Cewek yang menganggap “otak”-nya hanya sebagai sumpel kepala (nggak ada bedanya sama sumpel beha) alih-alih biar kepalanya bagus, bundar dan terlihat ADA isinya.

Called me synical! Well, I do!

=========================================================================

“yah ndut, cewek gw nggak bisa diajak makan di angkringan (dipinggir jalan), kasian, dia nggak biasa…” (Padahal wisata kuliner itu SAMA SEKALI nggak asik kalo di mall)

“Rum, gw agak telat nih, bilang sorry ama anak-anak yeh, abisan cewek gw nelpon, katanya payungnya ketinggalan dirumah, dia mau minta ambilin payung, makanya gw mau kerumahnya dulu ngambil payung, trus ngantur tu payung ketempat lesnya. Abis itu baru gw kesituh”. (mending minta jemput sekalian pas pulang, dibanding harus stupidly nyuru-nyuru orang lain untuk ngambilin barang-barang lo..)

“Yum, gw kagak ikut dah. Gw lagi miskin, ga punya duit cash. ATM gw lagi dibawa ama cewek guah. Besok aja deh jalannya, sekalian ngajak cewek gw.” (Anjrit. Duit itu pake capek kali nyarinya)

(T___T) Hhhhh………

Jadi inget, gw pernah dikirimi SMS, isinya: “don’t pray for an easy life, but pray for becoming a stronger woman”. Hm, padahal masih banyak kata kata lain kayak: prettier, or smarter, or dsb dsb. Why has to be “stronger”? Kenapa justru konotasinya terkesan maskulin untuk sebuah subjek yang feminin? (sigh…). Gw berpikir keras, there must be something beyond this.

Look, selain cantik, perempuan itu harus mandiri, pintar dan berkarakter. Bukan pintar dalam batasan degree/ijazah, tapi juga emotively smart (bahasa engineernya: adaptif). Yang paling penting: dapat membangun pribadi yang egaliter (merasa sama dengan orang lain). Karena dengan menjadi sama, setidaknya kita menjadi lebih peka dan respect terhadap keadaan. (At least, being aware terhadap hak maupun kewajiban selayaknya perempuan yang berakal dan berbudi pekerti luhur).

Girls, hidup itu seni kompromi. Lo harus bisa mengkombinasikannya dengan ciamik (pas dan tepat). Jangan terlalu mengandalkan atau bergantung pada orang lain. Dan yang paling penting, belajarlah mengenali potensi diri sendiri demi hidup yang lebih baik.

Beuh, lagian rugi cong (dari bencong), kalo hari gini masih menjadi typical perempuan jadul jijay manja cupet kuper bodo. Anyway, untung banget kok kalo loe bisa mengkombinasikan cantik, pintar, dan kuat sekaligus dalam satu paket. Coz believe me, smart and beautiful women are seriously dangerous[]

=========================================================================

jika tak ada kertas, aku akan menulis pada dinding, jika aku menulis dilarang aku akan menulis dengan tetes darah! (Wiji Thukul)

January 25, 2008

..The conversation - part 7..

Gw: Taka, aku beliin oleh2 kerupuk ceker dong
Taka: kerupuk ceker?
Gw: Iya, di Solo pasti ada yang jual, itu enak banget loh!

Taka: Waduh yum, kamu tau kan, kalo ayam nggak pernah pake sandal?
Gw: Ha?

===============================================================================

Riki: Hey don't forget, I'll get back to you in about one week, then we can continue our work
Gw: gyaa.. I'm dead.......!!

Riki: not so soon

===============================================================================

*confrens YM*

Cacha: Jiiieeee yg dibelain ama suaminyaaa…..!!!!!!
Gw: Ngiri aja loh *pasang icon monyet ngupil*

Reza: btw, suami, selingkuhan atau majikan?
Cokor: Lebih Tepatnya Lover.. hehehe
Reza: Kayak pizza yak? *meatlovers*
Risma: Ditunggu undangannya mbak yum.. resepsinya di indonesia kan???
Gw:
*kumur-kumur pake jus pare*

===============================================================================

Gw: Coks, "love you teu eureun eureun" paan sih?
Cokor: Oh, itu, cinta mati gitu lah..
Gw: ASEM!
*Ngambil gergaji mesin, nyari Cacha*

===============================================================================

Status YM:
"Hey moron, you are not a man, not even a piece shit of it!"

Bu Dian: ngapa neng? putus cinta sama Ricky?   
Gw: gyahahaha, nggak bu, temenku diputusin cowoknya, cowoknya selingkuh ama anak bayi, umur 17 taon

Bu Dian: kirain kamu PMS 
Gw: padahal tak kira nih cowok baik, ternyata...

Bu Dian: hadooooh 17 taun itu bukan bayi ... tapi suegeeeeer, fresh flesh.
Gw: minta digorok banget kan?

Bu Dian: cowo tuh sama aja semua ... bajingan, so ... tinggal kamu pilih, bajingan mana yang mau kau nikahin
Gw: Gyaaaaaaa.....

===============================================================================

Gw: *Nyanyi*
Chaca: brisiikkkk.......!!
Gw: perasaan dah pelan dah, lebay luh

Chaca: suara lu tuh yeh..!!
Gw: kalo merdu beneran... ntar lu nyawer lagih
*kedip-kedip*
Chaca: Hoeeekkk...!

===============================================================================

Buyung Upik: will you believe me if i tell you that a woman's BEAUTY & BODY affecting people than BRAIN & BEHAVIOUR?
Gw: then..... YES! absolutely YES! *mengalami marginalisasi gara2 kasus serupa* ihiks...

Buyung Upik: see .... proof of life is, in this community if you are a pretty woman, people will talk to you nicely (except for some sane persons), but for my case (as a proud ugly and old woman), they don't even need to stare at you while you were talking to them .... needless to say answering it nicely, sanity takes place for such behaviour
Gw: Sama kayak aku ama Icha yak? beda jauhhh...

Buyung Upik: heleh .... loe ama icha sama aja ... modis dan stylish, cuman loe lebih galak ... kekekekekek
Gw: iyak, mau tiru2 sampeyan, kayaknya keren gitu, Ricky juga galak, makanya suka tiru2 juga..

===============================================================================

Chaca: cun..
gw: ??

Chaca: cun... racun
gw: lo keong racun!

Chaca: lu maknya keong
gw: tapi gak beracun

Chaca: ga beracun tapi keriput
gw: emang gw mbah2

===============================================================================

Gw: Still... menurutku sih, you are goddess to me
Bu Boss: hiks ... ntar gw traktir baso deh loe roem ... hiks terharu gw, for once in my life .... hiks. Thanks for talking to the woman in the middle of midlife crisis and madness
Gw: Hm.... basonya yang gede yak?

Bu Boss: =)) hahaha
Gw: Tenang aja.. menurutku, being smart-ass can makes you look more than whatsoever people called it charming, coz... beauty without charming kind of: makan bakso tanpa bakso, ya nggak?

===============================================================================

Ai: trus kl u kapan meriednya nih??
Gw: weleh, gw aja masih maen ama kirun, masih cekakak cekikik ama imi

Ai: hehehe, jd kgen mo maen sama mereka lg, tp kpn ya? Gw kerjaannya keluar kota mulu nih, sibuk.
Gw: ah gw biasa aja, tetep kerja, tetep maen, tgantung orang itu mah

Ai: Kok gt
Gw: your environment, your daily routine, might be changed, but whatever you have inside you, still, cannot be changed

===============================================================================

Mas duta: blm pulang ?
gw: ini mau pulang. Mau itut?

Mas duta: mauuu
gw: heleh

===============================================================================

*status YM: dicari: seorang pria yang mau saya pacari*

Mae: woyyy....
Gw: napa may?
Mae: status lo ga kontRol dahh....

===============================================================================

gw: Reza, gw jadi pengen cari pacar kayak Dwi Sasono, ganteng! lelaki sekali dirinyah!
Reza: hahaha...

===============================================================================

Lia: arum, cokor knp??????
gw: dia kirim surat resign hari ini

Lia: ah serius loh, knp? yah, gw kok jd sedih gini ya...
gw: iyak, gw juga sedih kali, temen sebangku gw

===============================================================================

Sarwiyanto: ngerjain orang yok, gatel nih!
gw: hayuk, piye?

Sarwiyanto: sapa dulu korbannya, baru metodenya. Hm.. kira2 siapa ya?
Gw: Jangan lupa taktik dan strategi konspirasinya

Sarwiyanto: nah itu dia, ...target, motif, dan metodenya, kita tentukan strateginya juga, termasuk siapa2 aja bisa diajak terlibat kerjasama... Dan alokasi personilnya

===============================================================================

fai: Mana yang akan kau pilih?? mencari cinta orang yang belum tentu mencintaimu atau menerima cinta dari orang yang belum tentu bisa kau cintai???
gw: jawabannya, menikah adalah kombinasi cinta dan rasionalitas, no other comment, and also no "why"

fai: lah kalo lo ada di posisi gw, gemanah????

===============================================================================

Jacky: iyom, km ngabisin m&m taka ya?
gw: hehehe begitulah.. taka ngadu2 yak?

Jacky: ho'oh, katanya serem
gw: iyak, aku makan semua, orang-orang pada ngambil sebiji, aku sih tak raup, masuk mulut semua..

Jacky: waduuu....

===============================================================================

adry aditya: pagi..
gw: eh pagi dit

adry aditya: udah sembuh mba?
gw: masih kelelep ingus

===============================================================================

Taka: mumet..
gw: koyoke mumetmu kuwi, kaitan-e, mengenai kejiwaanmu, le

Taka: ya, aku takut begitu, bu...
gw: cobak beli molto sama baygon

Taka: diapain?
gw: dicampur, diminum, bagaikan jamu godog

Taka: rasane piye? enak ga? kalo pahit kan ntar kecewa
gw: koyok temu ireng, nek klewat, rak mambu, wangi koyok molto

Taka: haduuh
gw: nek baygon thok, koen mambu koyok coro, mulakne dicampur sithik karo molto..[]

===============================================================================

conversation - Part 6

January 06, 2008

.devil vs evil.

Venue: Kereta AC Ekonomi Ciujung
Time: hari terakhir menjelang wiken

==================================================================================

Sang Bapak: “Mas tolong kasih tempat duduknya buat si mbak ini” *Nunjuk ibu-ibu hamil*

Moron: “Enak aja, saya juga pegel nih pulang kerja”

Sang Bapak: “Mas, tapi mbaknya ini lagi hamil, tolong pengertiannya”

Moron: “Cari ditempat lain aja” *mengibaskan tangan*

Gw: *nggulung koran kereta gratis, sambil setengah kesetanan* “Heh stupid asshole! Dia ini hamil dan butuh duduk!! Lo kira perut buncit iney *nunjuk perut mbaknya pake koran* gara-gara busung lapar?! Lo punya otak kagak?! Pake dong otaknya!? Oncom!! B’diri kagak lo?! Diri!!”

Moron: “Siapa lo?! Ngomong merintah-merintah, teriak-teriak udah kayak orang nggak berpendidikan!”

Gw: “Heh, goblok!! Asal lo tau yeh!! Anjing gw kagak sekolah, Tapi dia ngerti gimana memperlakukan ibu-ibu hamil!!! Bikin malu negara aja lo!! Buruan!! B’diri!!!”

==================================================================================

Bahasa Indonesia ada tiga macam: bahasa Indonesia yang baik, yang benar dan yang enak. Mungkin kali ini, untuk memberikan pengajaran, gw harus nggak pake ketiganya.

Thus, abis ini gw musti Ngaras (nyembah) lebih lama dipun gusti Allah kang murbeng dumadi (nyuwun ampunan, ya Gusti). Karena hari itu gw udah bener-bener lelah dan khilaf liat manusia Indonesia yang benar-benar terkutuk (audzubillahimindzalik). Untung banget, saat itu gw kagak bawa FN atau granat. Bisa mati se-kereta ntar..

==================================================================================

Sigh. Kalau dirasa mampu, apa sih susahnya berkorban sedikit demi orang lain. Tampaknya sulit sekali berkorban (atau lebih tepatnya: berbagi) sedikit “pengertian”. Toh “pengertiannggak akan ngabisin duit tabungan loe kan?

==================================================================================

Katanya, dalam suluk dalang dalam wayang, Indonesia adalah surga yang turun ke dunia, negeri gemah-ripah, loh jinawi, tata tentrem, kerta rahardja. Orang Belanda menyebutnya, het zachtste volk der aarde (bangsa terlembut di dunia). Tapi apa yang terjadi sekarang? Kemana perikemanusiaan yang adil dan beradab?

Kemana?

Gw sangat paham, jika gw sedang hidup dalam masyarakat yang dibangun atas dasar kedzaliman dan penindasan, kebodohan dan apatisme. Tapi itu semua bukan berarti gw juga harus diam dan being part of them.

Gw jijay ngeliat orang yang memandang dirinya sebagai bagian dari kaum intelektual, namun nggak sama sekali berpartisipasi menghadapi dekadensi. Malahan terkungkung oleh kebingungan, lalu menahan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya baik karena takut mengalami penindasan. Yang kata bokap guah: Mbejujak! Dzolim! Tercela! Yang (juga) kata Pram: Perikemanusiaan limited.

Please people, janganlah hanya berusaha diam (alih-alih sabar) dan tahan memelihara kebodohan semacam itu. Gw jamin kita akan terus-menerus sengsara dan nggak akan pernah memperoleh solusi apapun atas segala masalah.

Tapi, selamat lah Bung! Karena Anda memang hidup di tengah manusia modern yang merasa dirinya pahlawan-pahlawan rakyat namun otentik dan kongkret dalam khianat, sinisme, kecurigaan buruk yang berpotensialitas setan. Sehingga menurut gw, nggak dosa kalo kala-kala, setan dilawan dengan setan.[]

==================================================================================
to mbak-mbak hamil: banyakin ketok ketok meja dah!

January 04, 2008

..untitled..

XYZ: karakter kerasmu itu..

Gw: itu mah bawaan

XYZ: oh ya...benar dong

Gw: iya kalo itu, mah

XYZ: aku pelajari karakter kamu dari SEMUA BLOG-BLOG KAMU

Gw: somay, so you now, sok teu. Coba aku tanya blog terakhirku tentang apa? buruan jawabnya, kalo lama berarti buka blog dulu

XYZ: aku bilang aku pelajari secara umum isinya...bukan perjudul

Gw: boong berarti

XYZ: terus terang belum ketemu ada perempuan seperti kamu yang show off.....

Gw: I beg your pardon? show off?! Jangan membuatku kehilangan selera untuk chat sama kamu, om

XYZ: itu senjatamu...kalau tertebak aku perhatikan selalu begitu...

Gw: aku nggak suka dibilang show off, kamu terlalu mengintimidasi, BUKAN MENILAI!

XYZ: aku gak mengintimidasi, itu penilaianku saja

Gw: nah kalo gitu, aku juga punya penilaian, kalau cara menilaimu itu sarkasme. Bisa ngerti nggak sih, kalo aku juga perempuan normal. Watch the wordings! This time I would say with: Please!

==========================================================================

Entahlah, sakit sekali rasanya.[]

December 30, 2007

..sakit sendiri..

“Please don’t go, I’d take care of you for the rest of my life.. I promise you!”.

The air is as silence as it might be frozen. The impuls of the moment, nearly kills your nerves. Barely kills you, when the truth is even harder to absorb then a light.

Kalimat terakhir dari James benar-benar membuat gw mikir setengah mati. Namun apa daya, gw dengan teganya pergi gitu aja, bahkan tanpa sepatahpun kata a dieu ke dia. Well, kalaupun gw ingin, I’m in a half way back to Indonesia, dan rasanya gw bukan superman yang dengan oncomnya bisa terbang balik ke negara antah berantah itu.

================================================================================

Gw bahkan nggak kenal James sebelumnya. Gw baru kenal James setelah minggu pertama gw dinyatakan bebas menjelajahi that urban-living city by Boss gw, Riki.

Gw ketemu James saat gw sedang melepas ragu dan menikmati keramahan senja Star Avenue pada weekend itu. Akhirnya setelah beberapa test, gw memutuskan kalo James adalah jenis alien yang harmless dan bisa dinobatkan sebagai my new alien friend. Anyway, as he has lived for years there, so bisa dong, doi gw manfaatin jadi tour guide gw selama gw ada di this urban-living city.

Walaupun emang sih, dari pertama ngeliat gw, James nggak pernah lagi memalingkan matanya yang kadang biru kadang hijau dari gw. I know from the first time, he likes me.. a lot.

================================================================================

James always bilang, muka gw unik, mata gw begitu bening dan besar. James juga bilang, gw bahkan nggak perlu pake eye shadow atau Sharma (eye-liner) untuk mempertegas keindahan mata gw. James bilang, aura gw beneran kuat untuk membuat dia nggak bisa tidur setiap malamnya gara-gara gw. Pujian yang menurut gw aneh dan nggak wajar, coz I never being flattered like that before.

Cowok-cowok lokal (made in Indonesia) yang bersama gw, jarang ada yang bisa sejujur James. And I admit it, lama-lama, gw jadi penikmat kalimat-kalimat manis yang terlontar dari James.

Well anyway, I’d never take everything as a serious matter. Coz gw pikir, semua cowok alien itu memang suka terlalu ekspresif, jujur dan lebay, and fortunately, gw juga tipikal cewek yang perkasa dan kebal terhadap kata-kata perpisahan ataupun rayuan busuk seorang pria, sehingga gw lebih menikmati acara jalan-jalan gw dibanding kebersamaan gw bersama James.

Gw juga percaya pepatah kuno: “Janganlah tergesa-gesa, supaya tidak ada yang terluka” dalam membina sebuah relationship.

================================================================================

Well, anyway, gw merasa kalaupun gw jatuh cinta sama James, this kind of relationship will never work for us. We are just too different. Mata James terlalu biru untuk bisa melangutkan kehangatan cinta yang pastinya nggak berhenti dia kasih ke gw. James terlalu mirip tiang bendera untuk bisa gw pegang pipinya, saat gw pengen mengekspresikan betapa gemesnya gw sama segala jokes yang dia kasih. Rengkuhan James terlalu dalam untuk gw jadikan sandaran saat kami berdua terdiam menikmati malam.

Bayangan-bayangan itu terlalu terlalu nggak rasional, absurd dan impossible buat gw.

================================================================================

Gw selalu beharap dicintai laki-laki seperti halnya James mencintai gw. Gw selalu beharap dipandang laki laki sebagaimana the way I am seperti halnya James menerima gw apa adanya. But once it happened to me, the feeling just not right, everything went so wrong.

And finally, I hurt James so bad. Apalagi ketika dalam kalimat penolakan gw, James sempat berujar: “Sungguh, kupikir semua akan menyakitkan buatku untuk sekedar mengingat dan menikmati senyumanmu dari jauh…”

================================================================================

Hingga kini tiap malamnya, gw selalu melayang-layang, bermonolog, berdialog intensif dengan Tuhan. Ibarat Anritsu Wiltron, gw menerka-nerka apa yang salah dalam diri gw, nggak lupa memohon ampun sedalam-dalamnya kepada Tuhan atas segala luka dan kekecewaan yang gw goreskan didada kiri James.

================================================================================

Mencintai pada akhirnya bukan menjadi pilihan, melainkan sebuah keputusan. Itu merupakan suatu rumusan kesedihan yang tak terelakkan.

Gw harus bisa menata kembali perasaan gw yang juga hancur karena memikirkan kepedihan James. Gw harus bisa belajar menyederhanakan arti cinta, dan menerima segala kekacauan yang gw buat ini sebagai bentuk pertanggung jawaban gw.

Walaupun dalam hati kecil gw, gw sempat bersumpah, jika suatu saat, gw ketemu another “James”, gw akan mulai belajar mensikapi perbedaan itu searif mungkin. Sehingga nggak akan ada lagi yang merasa sakit atau disakiti. Karena, sumpah, menyakiti orang lain itu terasa lebih menghimpit dan menyesakkan dada lo sendiri.[]

================================================================================

Jika Kau dan Aku, Jalannya telah berbeda, Haruskah kita Berharap.. Langit kan beri jawaban

December 29, 2007

..Pelajaran pendidikan..

Bongkahan Lion Rock disisi barat, dengan angkuh merajai dan mengisi setengah langit merah yang sedikit-sedikit mulai merembang, kadang biru kadang hitam.

Gw merasa, seolah batu itu bernyawa dan bisa merasa. Sejatinya, gw memang pengen seseorang ngerti kalo saat itu perasaan gw sedang dihimpit ragu, dan dalam kungkungan rasa tak menentu.

Disebelah gw, Si Boss masih aja karaokean pake lagu Cina sambil tancap gas over 120 Kmph. Harusnya dia ikut Cantonese Idol, well, I admit it, kualitas suaranya lebih banget dari sederet hurup: l-u-m-a-y-a-n.

“Arum, if you were could, do you want to be a teacher?”

Speed FTO sporty merah ini mulai melambat. 100 Kmph. 90 Kmph. 80 Kmph.

“Hey Arum, I’m talking to you!” suara si Boss yang mulai meninggi, menarik gw untuk segera ‘go back to earth’.

“What what what?” dengan gelagepan, gw membetulkan posisi duduk gw.

Si Boss cuman geleng-geleng kepala. “I was asking, if you were could, do you want to be a teacher?”

Seinget gw, gw cuma taking a long sigh, lalu dengan berat hati berucap, “If I could, I wish I could, Boss…..”.

Well, saat itu gw nggak perduli, Ricky ngerti apa nggak maksut kalimat gw.

================================================================================

Ujung-ujungnya, Ricky dan gw malah ngebahas masalah pendidikan. Seru juga sih.

Awalnya gw dengan cengceremet bilang kalo gaji guru/pengajar di Indonesia itu kecil banget, kualitas pengajarnya juga nggak begitu baik karena sistem rekruitmen dan pengembangan pola ajar nggak ditata dan diatur dengan layak.

Padahal, biaya pendidikan di Indonesia mahal. Kalau mau dapat yang berkualitas, nggak gratis (Ricky bilang di HK, sekolah sampai kelas 12 gratis, dan orang tua bisa di penjara kalo nggak ngasih pendidikan yang layak buat anak-anaknya).

Dan oncomnya, Indonesia juga mengalami kesulitan untuk mengimplementasikan pendidikan gratis. Karena peserta didiknya nggak punya ethos belajar yang baik. Dan di negara yang rata-rata peserta didiknya berethos buruk, pendidikan gratis adalah salah satu gerbang menuju kebangkrutan negara.

Why?

Karena orang tua akan lebih ketat mengawasi pendidikan anak jika biaya pendidikan betul-betul mereka tanggung sendiri. Kalau gratis? Ya sekolah sekenanya saja, tanpa esensi, tanpa pemaknaan, tanpa output, nothing at all. Hasilnya? Negara seperti buang-buang duit aja.

Ricky cuman mengangguk-angguk. Dia pun menyambung cerita panjang tentang Guru dan Dokter yang dibayar sangat kecil di Cina.

“Arum, do you know the reason behind? As we all know, government could pay them as high as possible if they want to..” Ricky masih memandang lurus ke cakrawala merah. “Do you know why?” Kali ini dia tersenyum ke arah gw (lebih tepatnya “smirking” not smiling).

“do you… know?” Gw dengan bego (sambil garuk-garuk) bertanya balik.

Ricky tertawa lebar, I never see him Laugh that hard.

================================================================================

Dengan rendahnya level penghasilan guru, otomatis orang-orang yang bisa dibilang “berbobot dan pintar” pastinya nggak memilih “menjadi guru” sebagai profesi/jenjang karier. Otomatis, bangsa yang kekurangan guru berkualitas, ya jadi terbelakang, ujung-ujungnya rakyat yang terbelakang itu gampang di stir pemerintah.

Itu di Cina lho. Di Cina. Nggak tau deh kalau di Indonesia. (gw: ngakak)

================================================================================

Seperti yang kita tau, pendidikan akan mengantarkan kita kepada bagaimana kita dapat berpikir secara benar, dan berpikir yang benar merupakan pengantar menuju pengetahuan yang benar.

Kebenaran tersebut akan membukakan pintu “kesadaran” kita. Coz tanpa kesadaran, kita hanyalah homo sapien berwawasan sempit dan bisa jadi terjerumus kepada kepengikutan buta terhadap berbagai macam khufarat, dan pada gilirannya akan menjelma menjadi batu keras yang menghalangi kemajuan umat.

Kata Mbak Mel, temen guah, "...kita tidak akan pernah cukup punya waktu, untuk mengalami semua kejadian dan menarik pelajaran...". Akhirnya kalo mikirin pendidikan di Indonesia yang kacrut-kacrutan, gw cuman bisa mlongo.

Dalam kumpulan langit gelap dan lansekap hitam yang memekat, butir hujan mulai berlomba membasuh tanah. Gw menghela nafas panjang, terdiam, ditemani gerakan wiper yang menyapu sangar namun samar.

Oh dewi pendidikan, kapan mampir ke Indonesia?![]

November 21, 2007

The Conversation - part 6

(Icha dan Eli: Lagi pacaran lewat telpon, disamping gw)

Icha: apa? nabok karung?
Eli: weh, nabok arum!!
Icha: gyahahaha *ngakak*

gw: (Asem....)

=====================================================================================

Xmen: Rum...apa enaknya pacaran bahas "exchange rate"?
Gw: hehe.. (dasar tukang baca bulbo)

=====================================================================================

Jean: Hi arum, ca va?
gw: Ca va bien, merci. Toi?
Jean: Si bien

=====================================================================================

Mae: buruan balik, biar gw puasin saat-saat terakhir sekantor ma elo
gw: idih ogaahhh..!!

=====================================================================================

gw: akyu lagi pake bando panda, beli kemaren di ocean park
enrico: wak..bando panda???

=====================================================================================

Ardi: oleh-oleh, cewe cina, nitip satu yak?
gw: Iyh, tiap hari makannya babi loh
Ardi: Nggak papa
gw: kenapa nggak icha aja?
Ardi: hahahaha..

=====================================================================================

Fajar: Rum, "hamba ALLAH" nih..
Gw: Jijay banget sih? Boong ah, kagak percaya! Sebutkan paswort!
Fajar: Sumpah, ini Achiel..!! Achiel Didi Riyadi

Gw: (garuk-garuk) *password match*

=====================================================================================

Imow: trus kamunya gimana? mau jadian, untuk serius ga? ato... utk.. gada alasan?
gw: (tanpa mikir) nggak ada alasan..

=====================================================================================

Alda Risma: mbak yum..
gw: napa?
Alda Risma: mbak yum, aku.. nggak bisa cerita, temenin aku nangis aja

gw: .... (haduw???)

=====================================================================================